Rumah Masa Lalu

Hari ini, aku datang bertamu

Ke rumah yang sudah lama tak kujenguk

Tapi inginku bukan untuk dijamu

Melainkan untuk memperbaiki yang telanjur buruk

 

Masa itu, aku sempat berselisih dengan empunya rumah

Aku merutuki dia, dia menyumpahi aku

Lalu, kami berpisah penuh amarah

Berharap api benci bisa dipadam waktu

 

Sebelum bertamu pun aku berkontemplasi

Pasalnya, dendam tidak mudah dipelihara

Tapi ego pun masih membela harga diri dan gengsi

Untungnya, hati nurani lebih keras bersuara

 

Kuamati tembok kokoh yang penuh hias

Bingkai demi bingkai foto beragam ekspresi

Tanpa izin, senyum tipis terulas

Titik-titik air mata bahkan mengancam membasahi

 

Kuajak dia duduk di ruang tengah

Pelan-pelan, aku berucap lirih

Memohon ampun atas yang sudah-sudah

Atas goresan luka rasa bersalah yang perih

 

Aku mengaku hanya selalu menyalahkan

Padahal, kecewa tak melulu jadi salahnya

Padahal, berkat dia juga aku bisa bertahan

Tangguh-tegarku, semua karya tangannya

 

Hari ini, sadar menghujan deras

Jiwaku tak akan sekuat sekarang

Kalau bukan karena ia terpa keras-keras

Gelap yang kukira sengajanya, kini berbuah jadi terang

 

Kami berjabat tangan, kemudian bepelukan

 

Akhirnya, aku bisa berdamai

Dengan diriku yang dulu

Di rumah masa lalu

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top