Upaya yang Laju

Pernah merasa menjadi bagian hidup orang lain, tapi setelah banyaknya peristiwa pilu yang terjadi saat ini, rasanya ingin kembali mengulang hidup dengan harapan kesalahan-kesalahan yang membuat kita seperti sekarang bisa pamit tanpa perlu mengunjungi rumah kita terlebih dahulu. Seyakinnya diri sendiri, segala bentuk dan isi rumah tidak ingin ada luka yang lama-lama segan untuk disinggahi. Begitu pun manusia dengan waktu dan kenangannya, sering kali membuat hidup sudah merasa salah sebelum usai dan layak untuk dinilai.

Setelah lahir, ada secuil bagian tubuh manusia lainnya yang lebih rela untuk dikorbankan daripada hidupnya sendiri. Kita mempunyai banyak bayangan yang bisa kita rekam kapan saja hingga kita mendewasa. Ya, kita memiliki itu semua, namun bukan berarti segalanya bisa menjadi kian baik. Ada banyak manusia yang menginginkan terlahir kembali karena kesalahan yang tidak bisa dipahami oleh jiwa dan pemikirannya sendiri, selayaknya kita yang menganggap hidup sudah gagal sebelum lahir ke bumi.

Memang baik jika kita sedari awal tidak merasakan kehilangan sama sekali dan terlahir menjadi manusia seutuhnya. Namun, bukankah lebih baik kalau kita lebih berani membuka jendela baru dan memulai kembali hal-hal yang seharusnya kita lakukan dengan bayangan lain di luar sana? Pada tiap perjalanan, selalu ada napas di mana udaranya tidak ingin kita hirup dalam-dalam, ada kata yang seharusnya usai tapi memilih rumpang sehingga hal-hal yang berupa jawaban hanya bisa sampai di ujung tanda tanya. Kita tidak bisa memaksa hanya angan saja yang bisa masuk ke dalam rumah. Kita tidak mampu menahan pintu untuk selalu tertutup. Kita, sampai kapan pun, tidak bisa memahami kehidupan karena adanya keterbatasan. Sekat yang sengaja diisi tidak lain dan tidak bukan adalah untuk kita sendiri supaya berusaha lebih keras bertahan dalam perihal yang tidak mampu kita jangkau.

Hidup tidak selalu soal memahami segala yang terjadi, tapi juga bertahan di atas kepala sendiri yang menuntut kita menjadi pribadi yang lebih mengecewakan karena terus-menerus memandang sesuatu yang seharusnya bukan milik kita.

Bukankah kepuasan adalah saat kita mampu menerima seada-adanya kita? Mari terlahir kembali dengan segala yang bisa kita miliki dan bertahan di dalamnya tanpa perlu meminta lebih.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top