Terima Kasih

Sudah terlalu banyak air mata yang jatuh menggenangi beberapa halaman yang ia baca. Terlalu sering ia uraikan benang-benang kusut di hatinya. Jatuh bangun sudah ia lalui, berharap kisah yang ia baca tidak selesai di tengah jalan; berharap bahwa kisah yang ia susun dengan sosoknya bisa menjadi buku yang utuh dan bisa dibaca berulang kali di depan teras rumah. Akan tetapi, segala yang dipaksakan utuh ternyata hanya menyisakan kehancuran di dalamnya. Sebuah ketulusan yang dipaksa abadi, tapi nyatanya hanya dibalas dengan sebuah pengkhianatan. Kau tahu? Saat ini ia berada di antara ruang-ruang gelap yang memaksanya untuk membuat rumah yang ia singgahi seorang diri.

“Jangan, jangan pergi untuk kembali.”

Sosok yang pernah ia ceritakan itu, bukankah sudah menjadi tokoh utama di dalam cerita orang lain, sudah memiliki kisah baru dengan episode yang tidak lagi melibatkan dirinya? Sudah, sudah pupus. Pelukan-pelukan panjang yang dulu pernah ada, kembali ia lipat untuk memeluk kembali segala kesedihan yang setia menemani kehidupannya. Perbincangan tentang masa depan harus bisa ia patahkan dan sisanya hanya mampu ia angankan dalam kenang-kenang malam. Tidak ada yang perlu disesali. Tidak ada. Saat ini, yang bisa dipahami adalah luka yang pernah basah itu selamanya tidak akan benar-benar kering.

Meskipun ia menangis tersedu sedan dan belum bisa memahami apa yang sedang terjadi, ia masih baik-baik saja. Ia tidak akan menyerah dengan cerita-cerita yang tidak ia kehendaki untuk selesai. Walaupun ia harus menjalani hari-hari pelik dengan penuh kehampaan di dalam perasaannya, ia percaya bahwa hujan kemarin akan membuatnya nyaman menjadi dirinya yang sekarang.

“Terima kasih sudah menemani separuh perjalanan hidupku.”

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top