Perubahan Itu Tidak Ada

Kemarin, saya sibuk pergi ke pantai, bermain petak umpet, dan membeli petasan untuk dinikmati bersama teman-teman dalam berbagai perayaan. Kemarin, saya adalah anak kecil yang menikmati apa itu bahagia tanpa harus mengerti terlebih dahulu apa arti bahagia sesungguhnya. Bahagia waktu itu, bagi saya, hanyalah sebatas senyum dan tertawa sepanjang yang saya mau tanpa perlu mengkhawatirkan hari esok. Namun, ketika fase ini berlalu dan masalah mulai datang satu per satu, saya menjadi manusia yang berbeda. Saya justru menjadi pribadi yang ingin menjauh dari apa pun dan dari siapa pun. Pun, sudah tidak lagi menjadi manusia yang senang dalam keramaian. Benar, saya tidak benar-benar utuh, separuhnya sibuk memahami, separuhnya lagi habis dibunuh oleh pikiran sendiri.

Kehidupan beranjak dewasa dan semakin sulit untuk dipahami. Kesedihan tidak tanggung-tanggung untuk menghampiri dan menemani saya bertumbuh. Beberapa orang datang dan pergi meninggalkan bekal di masa depan, dan tidak sedikit yang hanya meninggalkan kenang. Pun saya, yang menulis prosa ini, bingung tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dari langkah satu ke langkah yang lain, saya sibuk bertanya-tanya kenapa seakan hidup ini hanya perihal berlari dan menemukan lalu hilang sia-sia begitu saja.

Mendewasa, dengan saya yang menjadi separuh manusia, berusaha memahami keadaan yang sedang terjadi. Iya, memang tidak semua masalah bisa selesai dan pergi begitu saja. Ada juga masalah yang sebenarnya tidak ingin diselesaikan dengan pemahaman. Saya bersyukur pernah menjadi anak kecil, bahwa ada masalah yang penyelesaiannya cuma perlu diterima dan diikhlaskan untuk berjalan di atas garis hidup saya sendiri tanpa harus memahami arti masalah tersebut terlebih dahulu.

Mendewasa dengan segala perubahan itu wajar. Semakin kompleks masalah yang terjadi, semakin kita hanya ingin didengar dan dimengerti. Langit tidak selamanya biru cerah ceria. Daun-daun tidak selamanya berwarna hijau. Menjadi batu juga suatu saat akan terkikis oleh air dan angin. Jadi, kalau suatu saat air matamu jatuh karena gagal dan tidak bisa mengendalikan semuanya, itu wajar. Kegagalan tidak membuat hidup jadi berakhir dan runtuh begitu saja. Berbohong kepada diri sendiri juga nyatanya hanya akan menciptakan luka baru. Dan menurut saya, istirahat dari segala hal dan perlahan-lahan menerima yang sebelumnya pernah jadi penolakan adalah cara sembuh paling istimewa.

Kalau saya artikan dengan jujur, kita tidak benar-benar berubah. Perubahan itu tidak ada. Kita sebenarnya tidak menginginkan perubahan itu terjadi. Kita hanya ingin bertahan menjalani hidup. Itu saja. Tapi, selalu seringnya kita divonis berbeda dari sebelumnya.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top