Perjamuan Pratidur

Pukul 23.00, makan malam tentang melepaskan, tentang perjalanan di suatu kota yang tidak pernah dianggap ada. Kau tahu, seseorang di bawah cahaya bintang pernah berkata kepadaku bahwa mungkin hidup ini sejatinya adalah perjalanan yang tidak layak untuk dicintai. Kecintaan akan suatu hal yang sifatnya tidak abadi akan mewujud ketiadaan dan hanya berakhir sia-sia. Kecintaan pada hal yang fana tidak akan menjanjikan apa pun. Terlalu mencintai adalah bagian dari rasa sedih yang akan menjadi sesosok manusia yang disiram malam. Sudah terlalu banyak kehidupan ini menghabiskan rasa senang dalam diri. Sudah terlalu banyak kehilangan menyeduh sekumpulan doa yang sengaja dirapalkan pada mimpi yang masih ingin dirajut seindah-indahnya. Ketika mencintai kemungkinan-kemungkinan, maka satu-satunya cara bertahan hanyalah dengan menerima seluruh ketidakmungkinan.

Pukul 23.15, semakin ingin lelap dan menutupi wajah dengan selimut lalu melewati malam ini dengan cepat-cepat, namun seseorang itu justru beranjak dari tempat duduknya, memperlambat nada bicaranya dan yang kuingat saat itu dia tersenyum dengan deru napas yang sangat dalam, “Mau jadi siapa pun tidak akan mengubah apa pun. Garis perjalanan akan kian sulit dan kalau berhenti sebelum titik, tidak akan jadi utuh seketika setelah sekian lama rapuh. Kau tahu ‘kan, seutuh-utuhnya manusia adalah bisa menerima bahwa segala yang hidup adalah tentang kerapuhan dan ketidakberdayaan kita mengatasi yang abu. Aku cuma mau kamu tahu bahwa kepergian dan kepedihan itu selalu membersamai harapan dan mimpi besar kita. Jalani saja apa yang menurut kamu salah, tapi ingat bahwa semesta selalu punya cara.”

Pukul 23.59, tidak-tidak. Aku tidak ingin meminum secangkir kopi. Aku tidak ingin memikirkan apa pun. Aku sedang tidak berselera untuk membahas apa yang belum mampu untuk aku lakukan. Iya, aku tahu ternyata hal yang paling sulit adalah memahami bagaimana isi kepala bekerja untuk rasa mampu itu sendiri. Sudah tidak ada waktu untuk tidak menerima segala yang alpa. Sudah cukup menginginkan segala yang aksa. Seseorang itu kemudian pergi dan terbenam menjadi pagi untuk masa yang lalu, kini, dan selanjutnya.

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top