Mendekap Kebebasan

Tiap hari selalu ada hal baru, kehidupan yang menarik jiwa kita untuk bermain peran di dalamnya. Kata-kata yang begitu saja tersusun menjadi sebuah alunan yang sangat berhasil membuat kita tumbuh mendewasa dengan tingkat uniknya sendiri. Orang bilang kita punya rumah untuk berteduh saat segala yang menyakitkan saling bertemu hanya karena sebuah foto yang mereka lihat di dinding ruang tamu. Orang juga akan bilang kita punya segalanya hanya karena kesenangan selalu kita tampilkan dalam layar kaca. Semuanya saling tuduh saat kita sebenarnya mampu untuk memilih melempar bisu atas kesemuan yang membuat kita merasa paling jatuh dan tidak memiliki apa pun. Perkataan orang membuat kita merasa terbelenggu dan berdiam diri di suatu tempat sunyi sambil menerka-nerka apakah kebebasan itu hanya ada setelah abadi? Apakah pilihan harus berada di antara dua cabang yang keduanya sama-sama tidak kita inginkan hal itu terjadi? Parau karena mendengar atau khawatir karena diam.

Kita merdeka tapi tidak dengan jiwa. Kita memilih untuk memasungkan segala yang sifatnya bebas dan mempersilakan pesakitan itu merampas porsi damai dalam relung. Keputusan memilih mendengar sama halnya dengan menghancurkan pelan-pelan warna diri sendiri. Ketidakpercayaan hanya karena gagal. Keputusasaan hanya karena merasa segala sesuatu yang dilakukan dipandang sia-sia. Dan merasa kehilangan saat sebenarnya kita tidak akan pernah kehilangan apa pun. Hidup adalah kata kerja yang punya banyak warna. Senang-sedih memang tidak akan bisa berteman, tapi setidaknya mulai saat ini yang tumbuh mencoba untuk belajar memilih mendekap segala yang sedih dengan senang hati.

Memilih memang tidak pernah mudah. Pilihan yang disajikan selalu candu sekalipun substansinya tidak kita butuhkan. Kata-kata selalu hidup dan berjalan di penjuru kota, entah itu di siang dan di malam hari. Kita dikelilingi kata-kata dan akan hidup di atap yang sama. Tidak mudah untuk mengenali kata satu per satu. Kita memilih untuk berlari tapi nyatanya tidak akan bisa karena bagaimanapun kata-kata jugalah yang membuat kita tumbuh dan berproses menjadi dewasa, lika-liku konsonan dan segala yang kapital sering kali membuat kita merasa mati dan kecil. Tapi karena perjalanan ini terus berlanjut, kita bisa menyumbangkan vokal kita untuk mengusir segala ketakutan dan kata yang sia-sia menjadi lagu dengan suara merdu nan utuh yang bisa kita nikmati selama di dalam kendaraan.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top