Letak Rumah

“Karena kebahagiaan itu ada di dalam rumah kita sendiri.”

Ketika saya berjalan menuju tempat yang tidak menerima bagaimana seada-adanya apa yang saya miliki saat itu, ada sedikit rasa sakit, takut, tidak mau ke mana-mana lagi, hilang arah, dan memutuskan untuk memilih menepi dari segalanya. Dari dua tangan dan satu cermin, dunia enggan mempersilakan saya untuk memahami segala hal yang terjadi di luar batas kemampuan. Mungkin saya terlalu kacau dengan memaksakan semua harus bahagia. Padahal, segala sesuatu di dunia ini sudah ada porsi bahagianya masing-masing.

Saya ingin manusia lain punya rumah yang bisa ia singgahi sendiri, tempat mereka pulang dan mengistirahatkan kesedihan; muara atas perasaan diri sendiri yang selamanya tidak akan pernah mereka pahami; memaafkan segala jatuh dan sesal; tempat air mata butuh dihibur, bukan digali apa penyebabnya mereka keluar. Pun halnya saya yang tidak ingin menjelaskan apa-apa. Bersebelahan bukan berarti mengikuti kejadian apa saja yang terjadi di rumah lainnya.

Cukup untuk mendengarkan, tidak perlu makan hati. Cukup untuk melihat, tidak perlu dipandang lekat. Cukup untuk berbicara, tanpa perlu kehabisan kata-kata dan berujung palsu. Dunia penuh rasa cukup, bukan selebihnya.

Segala yang seluruh tidak bisa dihapus begitu saja. Perjalanan masa lalu bukan permainan yang bisa kita kendalikan mana yang pantas untuk diingat dan mana yang tidak, pun rumah merupakan titik keseluruhan yang pernah menjadi bagian dari perjalanan. Bahagia bisa didapatkan dari masa lalu sekalipun, tergantung dari seberapa besar penerimaan dan mengakui bahwa pecahan atas diri saya sendiri tersusun oleh banyaknya langkah kaki yang pernah berjalan beriringan.

Letakkan rumah dalam setiap ruas jalan dengan begitu saya cukupkan rasa bahagia tanpa perlu menuntut lebih.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top