Ada dan Tiada

Semalam, lampu-lampu temaram. Aku yang sedang melangkahkan kaki, seketika redup. Tubuhku tidak lagi sanggup memendam segala lelah. Aku tidak sedang benar-benar hidup. Perkataan dan segala yang mengomentari kehidupanku lagi-lagi bermunculan hingga tak berujung. Aku berjalan melihat segala surat kabar tentang lowongan kerja di papan pengumuman pinggir jalan, tapi nyatanya yang kuhasilkan hanyalah sebuah ketidakberuntungan. Aku dengan segala kegagalanku adalah aku dengan segala kekurangan yang perlahan-lahan merayap ribuan harapan yang aku susun ke depan.

Kadang, aku berpikir, benar juga apa yang dikatakan oleh Ibuku dulu, bahwa pada akhirnya hidup itu hanyalah berputar antara ada dan tiada. Saat itu, aku sedang meratapi banyak hal yang gagal aku jalani dan Ibuku menghampiriku seraya berkata, “Ada dan tiada. Kalau memang rezekinya, ya, alhamdulillah. Kalau bukan rezekinya, ya sudah, jangan dipikir, nanti pasti ada gantinya. Yang penting sudah mau berusaha. Selagi yang kamu usahakan itu baik, jangan pernah takut untuk memulai semuanya. Sudah, nggak perlu malu kalau banyak gagalnya. Toh, ya, gagal itu juga proses hidup yang nggak ada selesainya.  Doa Ibu di sini selalu yang terbaik buat anak-anaknya.”

Perkataan Ibuku adalah sebuah lampu yang dipertahankan benderang dalam prinsip hidupku, sebuah restu bahwa kegagalan adalah hal yang wajar saat kita berproses dalam menentukan jalan keluar atas permasalahan kehidupan yang menghampiri kita. Tidak ada yang salah dengan kegagalan. Bukankah kegagalan itu merupakan awal dari sebuah kesuksesan?

3.8 4 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top