Tolong, Kau Perlu Belajar Perkara Mencintai!

Padang rerumputan yang kusemai untuk sebuah peristirahatan abadi; yang nyaman tertata telah lama usang tak berdaya. Jauh berkelana tak ada yang menetap dalam diam; rusak dengan ilalang berduri tajam yang hanya lewat untuk bersinggah lalu pamit dengan tenang. Bertanya pada bunga rumput saja jawabannya hanya tawa. Kau terlalu nyaman dengan kesendirian, begitu kemudian rupa tuturnya.

Mana bisa bunga rumput yang kutanam dengan damai mengejekku dengan ungkapan demikian? Pernyataan itu tak bisa dibenarkan, aku bukan nyaman dalam buai kesendirian, hanya saja terlalu banyak benalu terang dan ilalang berduri tajam yang lebih picik dari kesengsaraan. Aku tenggelam dalam buaian yang katanya sang penyejuk, padahal dalam waktu tak terduga dan tanpa aba-aba dia hanya membantu tanam rindu yang harus kutuai dengan sakitnya. Genangan temu yang berakhir sendu tak mau membuatku jadi manusia cuma-cuma.

Jika dalam dongeng Cinderella para pangeran berkuda putih bertarung telak menjadi pemenang, lalu ia datang dengan tatapan sayup tenang, membawa buah tangan cinta dan rasa bangga telah memilikinya. Tapi, bagaimana denganku, yang lebih sering berjumpa dengan sosok gagah perkasa, yang lebih senang belajar tentang menanam rindu dan rasa sakit daripada belajar cara mencintai dengan benar?

5 3 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top