Mi Instan dalam Hidup

Hari ini sangat tepat untuk membahas sebungkus mi instan yang dimasak Ibu atau dimasak aku. Ibu selalu mengajarkanku bagaimana cara merebus mi instan, sampai aku fasih dan turut ikut dalam langkah yang ia cipta. Ibu bilang “Coba buat yang seperti Ibu bikin!” Aku jelas mengiakan. Tapi, seiring dengan proses hidup, aku memikirkan untuk menolak perintah Ibu dengan mengatakan bahwa aku punya cara sendiri dalam memasak.

Setiap proses yang Ibu dan aku lakukan dalam memasak mi pada dasarnya menuju hal yang sama, yaitu menikmatinya. Namun, pasti ada saja yang tak selaras. Bisa saja Ibu rampung lebih dulu daripada aku atau sebaliknya; bisa saja Ibu menuangkan bumbu di bawah mi dan aku yang menuangkan bumbu di atas mi; bisa saja aku membuang air rebusannya namun lain halnya dengan Ibu; mungkin saja Ibu yang menambahkan kecap manis namun aku menuangkan cabai sebagai pelengkap; lalu, bisa jadi Ibu menikmatinya ketika hujan reda namun aku menikmatinya ketika hujan tiba.

Maka dari itu, seiring berjalannya waktu, aku yang semakin tahu perkara dunia dan segala yang mengitarinya, memutuskan untuk mengambil sebungkus mi instan dan mencoba memasaknya dengan caraku, bukan cara ibuku atau bahkan temanku.

Ibu, anakmu kini mampu melangkah sendiri dengan cara sendiri karena mi instan buatanmu.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top