Kau Sirna Bersama Debu, ‘Ku Mati Bersama Sendu

Aku pernah membuat sebuah ikatan dengan dia yang kutemui selepas hujan datang, kami berjanji untuk mengunjungi seberkas cahaya. Lalu, menghadirkan mentari yang akan kita ciptakan bersama. Tak hanya monolog yang kutemui dengannya, namun berjuta dialog telah kami tuturkan. Tak pernah tebersit bahwa akan ada kegelapan untuk mengetahui adanya terang; tak pernah terpikir bahwa akan ada hambatan untuk bersenyawa.

Kami berjalan bersama dan berusaha untuk tetap searah, hingga sampai pada satu uji yang kami temui, dan lalu tak mampu terkendali. Semesta tak pernah ikut andil dalam cerita kita, ini hanya perihal kamu yang sudah tak kuat ketika disapu debu, dan aku yang sudah tak kuat untuk melindungimu. Aku yang salah, karena sampai kini hati dan kepercayaan kutitip kepadamu, entah sampai kapan. Di balik awan kelabu, hatiku ikut termenung memastikan ketidakpastian. Sejalan dengan hujan yang pasrah turun ke tanah, ada sebuah nyawa yang ikut terbalut untuk menyerah. Apa kau jelmaan ombak yang menarikku lalu hanyut? Atau kau serupa suka yang tak lama berganti duka?

Aku malu pada debu yang berbisik membawamu pergi. Aku malu, karena masih bertahan untuk tetap bersamamu. Bahkan, semua telah usai sebelum mengatakan perpisahan. Semua telah sirna selepas kita putuskan untuk tak melanjutkan. Terima kasih kepadamu yang tak pernah ragu untuk beranjak dariku; terima kasih kepadamu yang tak sungkan membawa dia pergi dariku.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top