Pesan dari yang Tidak Saling Mengenal

Dalam perkara itu setidaknya harus melibatkan satu saksi dan entah mengapa justru aku yang terpilih duduk di sini, di atas sebuah kursi dingin dalam hiruk pikuk yang riuh, rutinitas yang tidak biasa aku hadiri. Aku tidak tahu dari mana awal mula ceritanya, tapi aku merasa memiliki peran untuk ikut memanggul perasaan yang buncah dari dirinya, turut bertanggung jawab atas dia.

Kami pernah bercerita lewat diam yang hanya dipahami oleh dua makhluk saling asing di tempat temaram pada suatu hari yang cerah. Aku belum pernah bertemu dengannya, kami tidak saling mengenal, namun hari itu aku mendapat sebuah kepercayaan untuk mendengar cerita dari tatapan matanya.

“Aku tidak lahir dari segala baik yang mungkin sempat terlintas dalam benakmu. Semua goresan di wajah ini adalah topeng, sebuah tipu daya, tempat bersembunyi yang cukup aman, setidaknya hingga saat ini,” katanya kala itu membuka percakapan.

“Aku tidak mengenal kamu,” jawabku seadanya.

“Aku juga tidak mengenal kamu. Namun, kehadiranmu di sini memiliki arti bahwa kamu satu-satunya yang bisa menolongku. Aku percaya bahwa setiap proses waktu pada akhirnya akan mengantarkan aku pada orang yang tepat, bertemu di satu titik yang sama.”

“Aku tidak mengerti,” aku berkata jujur menatap dia yang nanar. Kami baru pertama kali bertemu dan rasanya dia telah menumpahiku dengan segudang rahasia hidupnya yang tak aku pahami. “Ini bukan sekadar sebab akibat, bukan tentang mengerti atau tidak mengerti. Kita semua terikat, semua saling memengaruhi. Kita terbiasa menjalani porsi kita masing-masing, menjaga jarak pada beban orang lain, seakan ikut campur adalah salah yang mustahil jadi benar. Nyatanya, pada saat-saat tertentu kita saling membutuhkan. Nyatanya, peduli di saat yang tepat dapat membebaskan kita dari jerat sebelum terlambat. Nyatanya, bertanggung jawab bukan hanya untuk diri sendiri. Ada waktu-waktu ketika menolong orang lain menjadi hal utama, bukan agar bisa tampil di muka, tidak selalu untuk jadi terlihat superior. Bukan karena hasil dari sebab yang diduga-duga, tapi karena kita semua terkoneksi satu sama lain. Dalam hidup yang singkat ini, maukah kamu ikut campur dalam masalahku? Aku memberi percaya untuk kamu.”

Aku tertegun. Selama ini aku memang sering tidak ingin ikut campur urusan orang lain bahkan cenderung apatis. Urusanku sendiri saja kadang sulit aku tangani, apalagi terlalu ambil bagian atas perasaan dan masalah orang lain, bukankah itu justru menambah beban kita sendiri? Namun, apakah bertanggung jawab atas orang lain akan selalu membawa masalah sekalipun dilakukan dalam takaran yang cukup?

Masing-masing kita punya kapasitasnya sendiri, kita bergumul pada setiap keluh agar bisa tetap bertahan. Sekalipun hidup adalah nyata tanggung jawab diri sendiri, tapi jangan sampai lupa bahwa ada manusia lain yang mengizinkan kamu untuk ikut andil dalam hidupnya. Segala sesuatu yang berlebih memang tidak akan mengantar kita pada ujung yang baik, lakukan segalanya dengan tepat, dalam kadar yang pas, pada orang-orang yang memang membutuhkan; bertanggung jawab atas ikatan yang saling terhubung. Bahkan, sekalipun kita tidak pernah saling kenal, hasrat bertanggung jawab itu tetap muncul, kan? Apalagi untuk orang-orang yang kaukenal dan kaukasihi sepenuh hati.

Itu adalah pesan terakhir darinya. Dia tersenyum penuh arti. Senyum itu pula yang mengantarkanku berada di tempat ini, menuntut keadilan untuk seseorang yang tidak pernah aku kenal lewat kanal mana pun.

Aku mengerti, perasaan berlebih untuk orang lain, menganggap segala masalah dan perasaannya adalah tanggung jawab kita juga, bukanlah sesuatu yang benar. Namun, aku juga setuju, kita harus punya empati untuk orang lain dalam takaran yang pas. Seperti yang aku lakukan saat ini, membela seseorang yang mempercayakan rahasianya, menyampaikan perasaan dan keinginannya kepadaku untuk mendapatkan keadilan. Sekalipun kami tidak saling mengenal di masa ini, bisa jadi kita benar pernah terikat di lini masa yang lain.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top