Peroleh Lega

Perlu pemahaman untuk mampu menerima setiap pedih yang ada. Hingga saat masanya tiba,

diri mampu memaafkan dan melepaskan, memerdekakan semua sesak yang sempat

menumpuk, semua yang pernah buat terpuruk.

 

Aku ingin berdamai dengan diri sendiri, dengan diri yang kerap kali memaksa agar segala sesuatu berjalan seperti yang aku mau, lupa bahwa dunia tidak hanya hadir untukku. Kala diamanahi luka, aku justru nyaman berlindung di baliknya, terlena. Menciptakan anggapan bahwa sebenarnya aku yang disakiti, otak turut berpartisipasi membuat persepsi bahwa memang aku terluka dan tidak ikut ambil andil perihal berkelakuan buruk yang menyebabkan masalah. Semata-mata karena ego, aku justru membentuk aliansi, sebuah kelompok yang mendukung kesakithatian, wujud tidak siap atas rasa kehilangan. Rutuk terucap, emosi yang dipantik menggunung menjelma kebencian. Makin dielak justru semakin terasa, semakin buat sesak.

Ada perasaan yang mungkin keliru dan aku tidak ingin semakin larut. Perlahan, belajar membuka hati untuk coba memaafkan, menerima, merelakan hingga melepaskan setiap beban yang hanya membuat perih, mengubah sudut pandang dengan berhenti menyalahkan. Toh, memang tidak ada yang bisa disalahkan atas perasaan kita, bukan? Semua mutlak tanggung jawab sendiri. Untuk itu, aku mulai dengan memaafkan diri sendiri, mengampuni laku juga pola yang sempat terbentuk, menerima sakit yang ditanam, mengubah kecewa menjadi tawa, merangkai keping yang sempat hancur, menata diri yang sempat rubuh, agar kelak mampu peroleh lega.

Ternyata memang ada banyak hal yang tidak dipastikan untuk aku, seperti memilikimu. Semakin dewasa rasanya semakin sadar bahwa tidak semua cinta bisa dimiliki, ada waktu-waktu yang baik untuk sendiri, menyisikan diri sejenak, beristirahat. Menerima jadi hal penting saat sadar bahwa memaafkan merupakan kunci bagi hati yang sesak, hingga akhirnya mampu melepaskan. Melepaskan luka, melepaskan setiap sakit yang pernah ada, melepaskan kamu yang sempat memberi banyak warna.

Kenapa kita jadi saling membenci? Padahal sama-sama menyadari bahwa setiap jumpa akan berakhir pada perpisahan terlepas dengan cara yang baik atau menyakitkan. Pada akhirnya, ketiadaanmu mengajarkanku bahwa setiap kali merasa kehilangan, hati kita bekerja untuk mengobati pikiran, menyejukkan hati, mengingat segala baik yang sempat kamu lakukan. Melepaskan kamu tidak akan pernah jadi hal yang mudah, tapi nyatanya sampai detik ini aku masih hidup, masih mampu berdiri, semakin kuat menjalani hidup seraya bersyukur telah mampu tuntaskan perasaan yang sempat memberatkan dan siap menyambut segala baik yang akan datang.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top