Pada Akhirnya

Ada luka yang menyisakan bekas mendalam, beberapa lainnya hanya menggores di permukaan. Bagi setiap yang telah usai, kita menutup halaman dengan tidak selalu gagah, kadang sambil menangis haru, kadang diiringi kesal dan kecewa, mungkin juga dibalut pasrah atau bisa jadi berkesempatan membalutnya dengan lapang hati. Setiap orang punya cara sendiri saat menutup lembar kisahnya, tapi yang pasti semua akan menuju pada sebuah siklus untuk membuka kembali halaman baru, kembali menghidupi hidup.

Kita harus sadar diri, jangan sampai terbuai dan berleha-leha jadi yang tersakiti atau terlalu nyaman berada dalam lingkar yang seharusnya diakhiri. Dunia menuntut untuk jadi realistis, jangan pula terlalu lama bersembunyi di balik luka hingga lupa bahwa hidup tidak berputar hanya untuk sebuah sedih, walau tak bisa dipungkiri banyak solusi mengantar kita pada masalah baru, halaman baru, atau mungkin halaman usang yang sudah lama ditutup.

Dari rasa sakit kita belajar agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, belajar untuk lebih waspada dan hati-hati. Ingatlah bahwa selalu ada alasan baik di setiap rasa sakit, jangan berpikiran bahwa orang lain lebih kuat atau miliki beban juga luka lebih berat maupun lebih ringan dari milikmu, karena menjadi rapuh adalah bagian dari setiap manusia. Silakan cari cara masing-masing untuk terus bertahan, membentuk diri semakin tangguh.

Pada akhirnya memulai kembali jadi sebuah cara memperbarui dan memperbaiki diri, bukankah setiap pencapaian selalu membawa rasa lega? Sama halnya ketika kita mampu untuk kembali memulai segala sesuatu, menata yang rapuh, menjaga yang ada, dan mengesampingkan ego. Jadikan batu loncatan agar sampai pada tahap hidup yang lebih dewasa, belajar menghargai diri dari banyaknya proses juga pengaruh negatif yang berhasil kita lalui, masa sulit yang terlewati, percaya bahwa bila saatnya tiba kita semua akan segera bertemu suka dengan cara yang baik.

Kadang memulai kembali tak berarti memulai dari nol, hanya perlu pemahaman untuk menerima setiap pedih yang ada, melupakan jika mampu, mengenang jika ingin, memendam jika perlu, asal tidak berujung mendendam. Saat sudah siap, sila jalani kembali ketidaksempurnaan kehidupan dalam pribadi yang lebih bisa mengimbangi skenario sang pencipta kehidupan. Semoga semua prosesnya jadi pemicu sehingga diri lebih kuat hadapi hidup yang sering kali menjelma jahat yang nyata.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top