folder Filed in Hidup, Sendiri
Kuatmu Untukmu
Penatmu jangan dijadikan sebuah beban, anganmu tetap harus selalu mekar, langkahmu harus sampai pada tujuan, pedihmu adalah ujian sejauh mana kamu mampu bertahan.
Vinka Aprilia comment 3 Comments access_time 2 min read

Sering kali merasa bosan pada siklus yang hanya buat penat, dari sana timbul berbagai pertanyaan, semua jerih, lelah, letih, yang jadi teman saat ini kiranya akan bermuara ke mana? Siapa pula yang dapat memberi janji bahwasanya dengan begini kamu akan menuju pada satu titik dimana kelak di sana mampu merasa aman? Apakah memang untuk semua ini kamu ada?

Melihat banyak orang lain yang nampak jauh lebih baik padahal dalam taraf usia yang setara tak ayal terlintas pikiran membanding. Membayangkan bagaimana rasanya hidup seperti yang kamu mau, bagaimana rasanya jadi orang yang kamu kagumi, ‘bagaimana rasanya jika aku seperti dia?’. Namun, apakah kamu menyadari bahwasanya semakin sering membanding justru semakin kalut, berbagai kekhawatiran muncul, harap yang timbul menggelembung, ketika sadar bahwa takdirmu memang bukan jadi seperti ‘dia’, kamu terjatuh pada lubang dalam yang menganga lantas merasa kosong, kamu tidak mampu melihat hidup dari sisi yang lain, dibutakan. 

Semestinya kamu mampu keluar dari obsesi dalam pikiran kemudian menjadi maklum bahwa memang ada banyak hal yang terjadi di luar ekspektasimu. Setiap manusia punya kapasitasnya sendiri-sendiri, yakini jika kamu akan sampai pada tuju di waktu yang tepat dengan kapasitasmu dalam tolok ukurmu sendiri, bukan tugasmu untuk membandingkan.

Maka saat kamu merasa semua yang berjalan tidak sesuai dengan apa yang kamu harap bukan berarti kamu telah usai, tidak selalu artinya kamu gagal. Dalam dunia yang sering kali jahat ini kamu sedang berperang, melawan sakit, melawan setiap detik, kamu meregang untuk banyak hal yang mungkin tidak kamu pahami sekarang.

Penatmu jangan dijadikan sebuah beban, anganmu tetap harus selalu mekar, langkahmu harus sampai pada tujuan, pedihmu adalah ujian sejauh mana kamu mampu bertahan. Sekarang, pesan yang ingin aku sampaikan adalah, seberapa sering pun rasanya kamu ingin berhenti, seberapa lelah pun rasanya kamu berjuang, tidak akan ada hasilnya kalau kamu berhenti di sini. Tujuanmu tidak bisa digapai dalam gundah dan keyakinan yang patah.

Sesungguhnya, memang ada banyak hal yang patut dikhawatirkan, ada banyak celah untuk kamu merasa gelisah, tapi itu bukan alasan untuk kamu hentikan langkah. Daftar yang ingin dicapai memang tidak sedikit, tapi bukan berarti harus digapai bersamaan, ‘kan? Perlahan, satu-persatu mari coba diurai, semoga Tuhan selalu tunjukkan jalan.

Jangan lupa memberi ruang untuk kamu beristirahat agar selalu ingat jalan kembali pulang. Sekarang, dalam situasi ini kamu sadar bahwa kita semua sedang tidak baik-baik saja, semua benang kusut yang kamu temui nyatanya bukan hanya ada dalam hatimu, banyak orang yang juga sedang coba melerai. Jangan khawatir, badai akan berlalu, hujan akan berhenti, sakit akan terobati, kuncinya ada padamu, mau seberapa cepat untuk bangkit? Hari-hari itu milikmu, kamu yang tentukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment

  1. Terimakasih sudah berbagi resah. Semoga kita bisa berdamai dengan diri sendiri, memaklumi saat segalanya tak sesuai ekspektasi