Beranjak ke Mana Lagi?

Semakin dewasa mungkin beberapa dari kita menemukan rumah-rumah lain yang tampak lebih nyaman dibandingkan rumah yang sebenarnya. Dimakan waktu, hubungan dengan keluarga menjadi renggang karena lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman, sahabat, atau pasangan di luar dibandingkan bersama keluarga. Kurangnya melakukan aktivitas dan menghabiskan waktu bersama disadari atau tidak merenggangkan ikatan yang mendarah, padahal rasanya dulu sewaktu kecil semua hal yang terjadi perlu dikabarkan kepada keluarga, celotehan riang selalu mampu menghangatkan suasana di kala malam, ketika semua berkumpul.

Semasa kecil, bisa jadi kita kurang memahami bahwa tidak semua keluarga mampu menjadi apa yang kita idamkan, beberapa bahkan terjebak dalam hubungan toxic family. Perasaan diasingkan, disudutkan, diabaikan, atau kurang dihargai justru memupuk langkah kaki untuk semakin jauh dari keluarga. Aku mungkin cukup beruntung hadir dalam sebuah keluarga yang utuh, namun tetap tak bisa mengelak bahwasanya rumahku tidak selalu terlihat sama. Dulu, kami selalu melakukan makan malam bersama, beberapa kali menahan lapar menunggu ayah yang terlambat pulang, kemudian membantu ibu menata makanan di meja, aku berbagi tugas dengan kakak-kakakku mengisi air, menyendokkan nasi hingga menyimpan piring kotor ke bak pencucian. Ini memang bukan hal istimewa namun sedikit banyak melekatkan ikatan persaudaraan yang terjalin. Kini kami jarang melakukan kegiatan itu bersama, aku dan kakak-kakakku bertumbuh dewasa, mengejar apa yang kami cita-citakan, melebarkan jarak, menyempitkan waktu kebersamaan. Secara pribadi, aku sadar betul bahwa keseharianku larut diisi padatnya aktivitas, jarang bercerita tentang gundahku kepada keluarga, sampai akhirnya ada yang aku sadari jika nanti kami semua pergi meninggalkan kedua orang tua yang pasti telah renta, rasanya aku tetap memiliki peran untuk menjaga mereka. Namun bagaimana bisa aku melakukannya dengan senang hati jika aku menutup diri pada orang-orang yang kupanggil keluarga? Bagaimana bisa aku melakukannya tanpa adanya keterbukaan dan rasa saling memiliki? Mungkin sulit, mungkin juga belum terbiasa, tapi aku belajar untuk membangun komunikasi yang lebih baik, menghilangkan canggung yang barangkali pernah timbul.

Teman-teman, sahabat, dan pasangan memang sering terasa lebih memahami kita dibandingkan keluarga. Pola pikir setipe juga kesamaan perjuangan membuat kita merasa nyaman dalam lingkup pergaulan sehari-hari, kadang sampai lupa jika pada akhirnya satu per satu kita semua akan berpisah, menentukan jalan hidup masing-masing. Silih berganti beranjak meninggalkan, tak ada lagi tawa riang, haru biru, dan keseruan lain yang biasa dilakukan bersama. Lantas, jika lingkup sosial kita berubah, harus beranjak ke mana lagi jika bukan pulang kembali ke rumah bersama keluarga? Kala dunia terasa menghakimi dan menjauhkan kita dari tujuan yang dikejar, kiranya akan beranjak ke mana lagi jika bukan pulang ke rumah dan berkeluh kesah kepada keluarga? Ini bukan prinsip semua orang, tapi kuyakini ada banyak yang percaya bahwa pada setiap sulit yang kita hadapi, tempat terbaik untuk kembali adalah keluarga, tempat di mana pertama kali kita bercengkerama dengan dunia.

1
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
fahmi Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
fahmi
Guest
fahmi

great..

Top