Telepon untuk Dan

Aku masih ingat pertama kali aku menghubungimu dengan perasaan ketar-ketir dan ketakutan menjadi canggung denganmu. Kala itu, harapku sekadar kamu selamat dari deritamu. Kuulurkan genggamanku untuk menjadi tumpuanmu, sekadar untuk menopang ringkihmu yang kau tahan atau mungkin kau alihkan. Menyerah tak berani, berjalan tak kuasa. Aku bersamamu kala itu dengan tenggat waktu hingga kesibukanmu telah usai. 1 bulan berlalu, 3 bulan berlalu, dan kemudian sekarang sudah setengah tahun kita di sini. 

Aku menikmati semua proses penyembuhanmu, setiap duka dan amarah juga benci dan keputusasaan. Di samping itu, ada pula hari-hari penghiburan dan perayaan yang kita nikmati. Bersamamu, tanpa sadar aku juga berdamai dengan semua kecewa, duka, dan dengki. Aku juga belajar untuk mencintai dan melindungi diriku sendiri sebagaimana aku berbagi yang kuketahui denganmu.

Kamu mendengar setiap kata yang mungkin selalu terulang setiap harinya tentang penerimaan dan kasih yang tak boleh terlupa. Kamu berproses menjadi sebaik-baiknya dan senyata-nyatanya dirimu. Kamu membuka jendela-jendela baru untukku dan melihat dunia-dunia baru bersamaku. Kita tak pernah lupa untuk setiap ucap syukur dan terima kasih yang takkan pernah menjadi bosan untuk diungkap. Hari ini, aku sadar bahwa dering teleponku kala itu bukan hanya untuk menyelamatkanmu, tetapi juga untuk menghadirkan kita. Menyelamatkan kita dari duka, sunyi, dan keputusasaan.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top