Rumah Tanpa Atap

Di sudut kota, di antara ruang tertutup yang berderet rapi di tepian jalan, angin malam meniupkan lembut hidupnya pada gadis repas yang telungkup dengan kardus bekas dari pemulung tadi siang. Matanya terpejam, namun jiwanya pergi menelisik mencari sesuatu yang hilang. Tubuhnya yang ringkih saling memeluk, menutupi luka yang terlampau lebam dimakan waktu. Gadis itu membuka mata, tersenyum melihat pemandangan di depannya. Gemerlap pertokoan yang masih enggan mengakhiri hari, beberapa ambisius yang masih terjaga dengan kendaraan beroda mereka, sampai beberapa pemabuk yang terlihat girang di ujung jalan. Tangannya meraba saku celana, berusaha menemukan kawan setianya. Tapi nihil, tidak tersisa apa pun di sana, hanya beberapa butir asa yang tertinggal.

“Mencari ini, Nona?”

Gadis itu menoleh pada pria yang kini menyodorkan sebungkus Sampoerna. Tidak, itu bukan kawan setia yang ia cari. Tapi mungkin, Sampoerna bisa menjadi kawan baru bagi nasibnya yang tidak sempurna.

“Karun, jika kau penasaran,” katanya mengenalkan diri. Ia memantik rokoknya dengan korek, kemudian menawarkan gadis itu.

“Ainur.”

“Malam melukaimu, Nur. Terlalu dingin untukmu.”

“Di sini hangat, aku terbiasa membeku di tempat yang kau sebut rumah.”

“Kukira kau tidak punya rumah.”

“Memang, rumah yang enggan menerimaku, kurasa.”

“Atau kau yang enggan masuk?”

Gadis itu tertawa. “Rumahku tanpa atap, hanya ada sekat.”

“Begitukah? Apa sekatnya terlalu sempit?”

“Sangat, membuatku sesak.”

“Tapi bukankah tanpa atap cukup baik? Kau bisa melihat bintang di atas sana.”

“Hanya kilat dan petir yang kulihat, badai kadang mampir sebentar. Aku butuh kehangatan, bahkan tubuhku gigil ketika matahari sedang menunjukkan diri.”

Pria tadi menatap gadis itu sepenuhnya. “Sepertinya rumahmu sudah hampir rubuh.”

“Sudah rubuh bahkan, nuraniku yang kadang menahannya agar tidak jatuh.”

“Kau sendiri?”

Gadis itu mengangguk. “Yang lain sibuk menebar benci.”

“Ke mana penghuni rumahmu?”

“Mereka sudah mati saat masih hidup.”

“Itu sebabnya kau di sini?”

“Mungkin, kusebut ini takdir.”

“Takdir apa?”

“Karena mataku hanya diperuntukkan untuk melihat kebahagiaan orang lain. Di tempat ini, banyak cerita yang bisa kulihat.”

“Misalnya?”

“Bertemu denganmu, sudah lama sekali sejak terakhir kali aku bicara dengan manusia.”

“Biasanya?”

“Angan.” Gadis itu tertawa lagi untuk yang kesekian kali, kemudian menyesap kawannya singkat. Asap yang mengepul di udara menjadi penonton setia mereka kini, seakan jadi saksi pertemuan yang sangat sebentar, sebelum diakhiri oleh takdir, bukan, tapi pilihan.

“Benda itu seperti sudah tidak sabar bertemu kita.” Pria itu menunjuk sebuah kepingan tajam yang biasa dipakai untuk mencukur.

“Sebentar lagi, hadiahmu belum habis.” Ia melayangkan rokoknya di udara, menunjukkan bahwa kehadirannya masih ada.

“Mau pergi bersama nanti?”

“Kauingin ikut ke neraka?”

“Biarkan aku, dunia sudah tidak waras.”

Gadis itu tersenyum. “Baiklah, semoga tidak menyesal, Karun.”

Demi Tuhan, semesta memakbulkan mantra mereka saat itu.

4.8 18 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
3 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Icha
Icha
8 months ago

Keren banget! Sarat akan makna.

Iqsal Amarullah Siregar
Iqsal Amarullah Siregar
7 months ago

Sumpah keren banget kak?

wandalfr
wandalfr
6 months ago

you got me

Top