folder Filed in Adalah, Hidup, Perspektif, Puisi, Sepasang, Yang Rutin
Kita Adalah Sebuah Stasiun
Di stasiun, hujan jatuh tak mengenal musim. Ia turun ketika gerbong-gerbong datang, menjemput kebahagiaan dan menurunkan kesedihan, atau justru sebaliknya.
Vanadani Pranantya comment One Comment access_time 1 min read

Barangkali,

kita semua pernah menjadi sebuah stasiun,

menunggu orang-orang datang,

meski akhirnya kembali ditinggalkan.

Stasiun adalah tempat menjemput seseorang

setelah bepergian jauh dan kemudian pulang.

Tapi seringnya,

stasiun adalah tempat seseorang untuk berpamitan,

melambaikan tangan dan juga menjeda pertemuan.

Di stasiun, hujan jatuh tak mengenal musim.

Ia turun ketika gerbong-gerbong datang,

menjemput kebahagiaan dan menurunkan kesedihan,

atau justru sebaliknya.

Stasiun selalu tabah menunggu seseorang,

turun dari kereta, bahkan sekalipun gerbong-gerbong itu kosong,

ia akan menunggu,

mungkin pada kereta selanjutnya,

atau mungkin musim-musim selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment