Unpopular Opinion, Unfinished Growth: Menjadi Diri Sendiri Bersama Keke Kania

Keke Kania–seperti air yang akan terus membentuk diri sesuai kebutuhan.

Unpopular Opinion, Unfinished Growth: Menjadi Diri Sendiri Bersama Keke Kania

Keke Kania–seperti air yang akan terus membentuk diri sesuai kebutuhan.

Di media sosial, Keke Kania dikenal lantang. Opini-opininya kerap berada di wilayah tak populer dan memantik perdebatan, dari pengasuhan hingga luka batin dan relasi kuasa dalam keluarga. Sebagai penulis sekaligus ibu dua anak, ia tak memisahkan karya dari hidupnya, yang disuarakan adalah pengalaman yang dijalani dan dibongkar dari dalam.

Siang itu, kami bertemu Mbak Keke di Dia.lo.gue Kemang, di tengah peluncuran buku terbarunya, Can I Talk To You?. Ruangan dipenuhi percakapan hangat, pelukan, dan tawa; orang-orang datang bukan hanya merayakan sebuah buku, tapi juga perjalanan seorang ibu yang berani membuka ruang dialog dengan anak-anaknya, sekaligus dengan dirinya sendiri. Buku ini lahir dari obrolan-obrolan kecil yang kerap luput dianggap penting, dirangkum bersama refleksi personal tentang mendengar, mengakui, bertumbuh, serta keberanian menatap luka dan memutus pola yang tak ingin diwariskan.

Waktu kami bersama Mbak Keke siang itu terbilang singkat, namun cukup untuk menangkap caranya hadir tanpa tergesa, tanpa defensif. Inilah edisi Berbagi Perspektif bersama Keke Kania, sebuah upaya memahami manusia lewat cerita.

***

Tell me without telling me, Keke Kania itu siapa sih?

Aku manusia biasa yang membawa pesan dan cinta dari Tuhan. Lewat karya, tulisan, dan kehadiranku, aku berharap bisa menyebarkan nilai cinta kasih, toleransi, dan mengadvokasi orang-orang yang punya pandangan berbeda. Mungkin nggak semua orang setuju, tapi mungkin itulah poinnya. It wouldn’t be different or special if it shared the same opinion as everyone else.

Mbak Keke terlihat cukup vokal, bahkan mungkin memicu perdebatan bagi sebagian orang. Tapi sebenarnya, bagian dari diri kamu yang jarang terlihat di media sosial itu seperti apa?

Kalo kata orang-orang juga aku terlihat galak sih. Hahaha. Terus di media sosial terlihat rapi, berani, seolah tanpa rasa insecure. Secara nggak langsung, itu memang persona yang aku bangun sendiri. Tapi pada kenyataannya, aku masih sering merasa bimbang dan a bit messy, terutama soal struktur berpikir. I think that’s partly because I have ADHD. But now, I’m learning to embrace that spectrum of my life.

Wah, beneran ada yang mikir kamu galak, Mbak? Kamu sendiri menilainya seperti apa?

Mungkin iya, kelihatan agak galak, hahaha. Tapi persona ini sebenarnya cukup konsisten, baik di media sosial maupun di kehidupan nyata. I just know what I want, and I’m not afraid to show it or say it. This is me, take it or leave it.

I’m willing to meet you in the middle, as long as you’re willing to meet me in the middle. But I won’t lose myself for the sake of pleasing other people. Dan mungkin, kadang hal itu memang bikin orang lain merasa nggak nyaman. Tapi menurutku, ini juga bagian dari budaya Indonesia yang ingin aku dobrak.

Apakah cara pandang Mbak Keke seperti ini juga dipengaruhi oleh didikan keluarga dan lingkungan sekitar?

Iya, sangat. Ibu dan kakekku selalu mencontohkan. Dari dulu mereka nggak pernah takut untuk speak up. Kalau ada perasaan atau pendapat yang mengganjal, lebih baik diungkapkan tanpa takut dicap salah. Dengan berani menyampaikannya, kita kadang mewakili orang lain yang nggak seberani kita. Aku melihat diriku sebagai bagian dari perubahan itu.

Kembali ke obrolan sebelumnya, boleh kamu ceritakan bagaimana pengalamanmu berjuang dengan ADHD?

Waktu aku tumbuh besar di tahun 90-an, hampir nggak ada yang tau soal ADHD. Nggak ada istilahnya. Yang ada, aku cuma dicap nakal, pembangkang, rebel, baik di sekolah maupun di lingkungan sekitar. Bahkan, aku sering disebut “difficult”.

Mungkin karena sejak awal aku memang nggak dibesarkan untuk jadi anak yang penurut. Nurut untuk hal yang baik? Aku setuju. Tapi kalau ada sesuatu yang menurutku nggak baik atau nggak sesuai dengan prinsipku, aku nggak akan ikut-ikutan.

Lalu, kapan pertama kali kamu benar-benar mengenal istilah ADHD dan mulai memaknainya secara serius?

Pertama tau istilah ADHD waktu kuliah, tapi baru benar-benar memaknainya saat dewasa. Diagnosis profesional menunjukkan aku ADHD combined, mengalami masalah inattention dan hyperactivity yang berkaitan dengan fungsi otak.

Sejak saat itu, semuanya jadi masuk akal. Aku mendapatkan penanganan yang tepat, dan yang paling penting, aku jadi bisa membantu anakku juga. Karena ketika aku lebih memahami diriku sendiri, aku jadi bisa membantu anakku memahami dirinya.

Jadi, kamu mengetahui bahwa kamu mengidap ADHD ketika sudah memiliki anak?

Yes, bener.

Bagaimana hubungan Mbak Keke dengan anak pada saat itu, sebelum mengetahui diagnosis tersebut?

Chaotic. I was dysregulated all the time. Aku stres, burnout, apalagi saat itu aku masih kerja 9 to 5. Aku sempat juga masuk ke fase depresi. Yang pertama, aku mengalami PPD (Postpartum Depression) di tahun 2012. Lalu itu datang lagi di tahun 2019 menuju 2020. Tapi yang kedua ini, aku sudah lebih paham dengan apa yang sedang terjadi.

Dulu, aku nggak bisa mengontrol diriku sendiri. Dampaknya kena ke orang-orang terdekat, termasuk anak dan suamiku. Tapi orang yang paling banyak melewati proses pertumbuhanku adalah anak pertamaku. Kebetulan aku juga anak pertama, jadi aku paham rasanya tumbuh bersama ibu yang juga sedang belajar, from unconscious to conscious.

I know I’m not perfect, and I still snap sometimes. Tapi kemungkinan untuk kembali ke kesadaran itu sekarang jauh lebih mudah. Kuncinya adalah awareness and consciousness. Because you can’t heal from something you don’t know. Kalau dua hal ini nggak ada, kita akan terus berada di titik hidup yang sama.

Setelah melewati semua proses itu, bagaimana hubungan kamu dengan keluarga bahkan dengan diri sendiri? Apa pelajaran yang paling kamu rasakan?

I wouldn’t say much better, but healthier. Much healthier. Aku jadi lebih mau mendengarkan mereka dengan sepenuh hati. Aku juga lebih berani mengakui kesalahan. Jadi kalau misalnya di satu hari aku marah atau bersikap kurang menyenangkan, aku bisa lebih cepat menyadarinya, mengakuinya, dan tau bagaimana memperbaikinya lewat tindakan, bukan cuma lewat kata-kata. I know how to embrace it too.

Dulu, hidup rasanya cuma dijalani day by day. Pikirannya kerja, cari uang, pulang, lalu mengurus anak dan keluarga. Tapi sekarang, aku merasa benar-benar “sadar” menjalani hidup. Aku sudah tau “level tangki cintaku” dan bisa memberi lebih banyak tanpa kehilangan diri sendiri.

In a way, now I’m more resourceful, more conscious, more insightful, and more healed. It doesn’t mean I’m 100% healed, but I’m healed better than before.

Kalau ada standar parenting yang ingin kamu patahkan, itu yang mana?

Ibuku selalu memberikan contoh bahwa orang tua itu bisa—bahkan harus—meminta maaf. Aku paling ingat satu momen ketika ibu meminta maaf kepadaku, waktu aku masih smp menjelang sma. It was life-changing for me, apalagi di usia itu aku masih dalam proses pertumbuhan. Momen itu benar-benar membekas.

Sejak saat itu, ibu nggak pernah sulit untuk meminta maaf. Dan aku merasa sangat blessed, karena aku bisa memulai proses itu lebih cepat bahkan saat anak-anakku masih kecil. Dari proses transformasi ibuku, aku memetik hasilnya. Dan itu juga yang ingin aku berikan ke anak-anakku, supaya mereka bisa memetiknya lebih cepat lagi.

Ini juga jadi salah satu caraku memutus rantai trauma masa lalu. Dan efeknya benar-benar terasa di generasi-generasi berikutnya.

Bagaimana Mbak Keke melihat dirimu yang sekarang sebagai orang tua?

Aku nggak suka melabeli sesuatu. Because when I give a label, it becomes solid. Aku lebih suka jadi flowy, fleksibel dalam proses bertumbuh. Kalau dulu aku bilang, “I’m a gentle parent.” No, not really. Ada juga yang menyebutku conscious parent. Well, being conscious is one thing, but it’s not the whole process. Karena sepanjang hidup, kita akan terus bertumbuh, kan?

Layaknya air, kita akan terus membentuk diri sesuai dengan apa yang dibutuhkan, oleh diri kita sendiri, keluarga, maupun lingkungan. And I believe I’m not done yet. I still have a long way to go. I don’t know how life will be, but I know I’m not done yet. 

Jadi aku nggak melabeli diriku sebagai orang tua seperti apa. Tapi yang jelas, aku adalah orang tua yang sedang bertumbuh. That’s probably the best way to describe me as a parent today.

Buku Can I Talk To You? yang kamu tulis juga sangat personal dan intim. Apa yang mendorongmu untuk menuliskannya dan membagikan percakapan-percakapan itu ke publik?

Buku Can I Talk To You? ini memang berangkat dari pengalaman pribadiku dan obrolan sehari-hariku bersama anak-anak. Dengan consent dari mereka, aku diperbolehkan mempublikasikan sebagian kecilnya, as a tiny part. Walaupun sebenarnya, masih banyak sekali dialog yang aku rekam. Tapi yang akhirnya masuk ke buku ini adalah yang sudah melalui proses kurasi bersama anak-anakku.

Pengalaman-pengalaman ini aku catat lengkap dengan personal reflection, karena sebelumnya aku nggak pernah mengalami percakapan-percakapan seperti ini dengan orang lain. So these conversations were deeply reflective and eye-opening for me.

Banyak percakapan itu juga memantik ingatan akan masa lalu: patah hati, konflik dengan teman, kegagalan di sekolah, dan luka-luka lama lainnya. Aku menyadari bahwa pengalaman ini bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk menatap memori, emosi, dan rasa sakit dengan kesadaran penuh. Menulis buku ini menjadi bagian dari growth mindset-ku: menyimpan, merenungi, dan belajar dari proses yang luar biasa, life-changing, dan menyembuhkan.

Terakhir, apa satu hal yang paling kamu syukuri dalam hidupmu hari ini?

I’m alive. That’s totally the biggest blessing of all. 

***

Obrolan kami terhenti saat Mbak Keke harus bersiap untuk sesi talkshow di peluncuran bukunya. Meski singkat, satu hal terasa jelas adalah keberanian untuk hidup dengan sadar. Baginya, bertumbuh bukan tentang menjadi orang tua sempurna atau manusia selalu tenang, melainkan tentang mendengar, mengakui, dan memperbaiki diri lewat tindakan.

Hidup, dengan segala ketidaksempurnaannya, adalah ruang untuk terus hadir, belajar, dan memutus rantai luka agar tidak lagi diwariskan. I’m alive. Tidak lebih dari itu, tapi lebih dari cukup untuk memulai kembali hari demi hari.

Rizka Oktivani

Suka nulis ajah sih.

Bagikan:

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email
WhatsApp

Lihat Juga