folder Filed in Adalah, Puisi
Sabtu Pagi
Sabtu pagi aku kelelahan untuk bangun. Orang-orang sudah siap dengan isi kepala dan tenaganya yang katanya bisa membangun kota dan kantongnya.
Ulfi comment One Comment access_time 2 min read

Sabtu pagi aku kelelahan untuk bangun. Orang-orang sudah siap dengan isi kepala dan tenaganya yang katanya bisa membangun kota dan kantongnya.

Kamarku merengek minta dibereskan. Ada secangkir hujan jatuh dan aromanya yang membuatku tertidur satu semester, kuliah yang memabukkan. Sapardi tidak sengaja membawa hujan yang disimpan 6 bulan lalu untuk dihidangkan di bulan juni kemudian tumpah menyenggol salah satu peliharaanku, keragu-raguan.

Sekarang ada pelangi di langit-langit kamar kost-ku yang selalu telat kubayar. Aku tidak bisa melihat apakah ia abu-abu atau mejikuhibiniu. Aku buta warna sejak menginjakkan kaki di tempat ini dan mengenal kota.

**

Aku selalu tidur dengan pelukan buku-buku yang merengek minta dibaca di halaman ke-dua puluh satu.

Di kepalaku akan menempel bantal yang tak pernah mau berkenalan dengan sarung. “Aku tidak perlu sembunyi dari apapun”, katanya.

Di ujung kasur kau akan menemukan kakiku menendang kertas-kertas ketika aku menghadapi kenyataan buruk dan kertas-kertas tersusun rapi ketika aku menghadapi mimpi buruk.

Aku benci ketika kau berkata “Semoga mimpi indah”. Tidak ada orang yang ingin mimpinya lebih menyenangkan dari kenyataan.

Setiap pagi aku akan terbangun dari sisa mimpi baik yang kau dengungkan dari jauh dan disambut ketakutan yang memekakkan.

Aku akan menanggalkan bajuku dan melemparnya di tumpukan, katanya mereka lelah menjadi bahan pengakuan.

Aku berdiri telanjang di cermin. Tubuhku adalah kumpulan dan kumparan kesedihan dan kemarahan yang kau lihat di jalanan kota.

Gelandangan, penjual Koran, penjual gorengan, kemacetan, hujan, langit yang mendung, langit yang terik, senja yang sedih, dan sepasang mata pencopet berumur 7 tahun yang kelaparan.

Aku tidak pernah membayangkan seseorang mampu membaca kesedihan tubuhku. Katanya, laki-laki tidak mencintai wanita yang sedih, atau penuh kesedihan, atau terbuat dari kesedihan.

Sabtu pukul 11:23, angin tidak pernah tenang. Ia adalah kumpulan pikiran-pikiranku yang butuh pelukan, atau ambisi kau dan mereka yang katanya mencari kebahagiaan.

2018

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment