Si Rapuh

Aku terdiam di kamarku, menatap setiap sudut kamar dengan tatapan kosong. Lelah. Bahuku terasa berat karena beban hidup ini cukup membuatku lelah dalam menjalani kehidupan. 

Aku menarik napas panjang, berusaha bangkit dari kasurku, bersiap memulai aktivitas pagi ini, dan mencoba menyemangati diri sendiri dengan harapan, “Semoga hari ini lebih baik dari kemarin.”

Aku terus memotivasi diri setiap hari, berusaha senyum pada keadaan yang tidak mudah, berusaha tenang pada takdir yang telah dituliskan. Hanya saja, aku menemukan tuntutan dari orang-orang sekitar. Hal itu yang membuatku bertanya, “Aku hidup untuk apa dan siapa?”

Orang tuaku menganut menganut pola asuh yang membuatku terkadang marah pada keadaan. Pola asuh mereka membuatku kurang nyaman terhadap keputusan hidup yang kuambil. Ayah ingin aku menjadi yang dia mau sedangkan aku selalu ingin menjadi apa yang kumau. Kami selalu bertentangan. Padahal aku hanya ingin menikmati hidup senyaman mungkin sebelum bertemu dengan kematian. 

Usia yang hampir seperempat abad ini membuatku takut. Aku takut pada hidupku. Aku takut pada keputusan yang kuambil. Aku takut pada penilaian orang terhadapku. Aku juga takut pada tuntutan orang tua yang belum kupenuhi. Sungguh, ini sangat membebani. Kadang aku butuh ruang untuk sekadar bercerita dan berbagi keluh kesah yang sulit diungkapkan. Intinya aku rapuh.

Namun di dalam kerapuhan ini, aku tetap percaya pada Tuhan. Bahwa Dia tidak akan pernah meninggalkanku dalam keadaan buta tanpa arah. Aku yakin rencana-Nya baik, meskipun harus melewati kejadian yang sangat memilukan hati. Mungkin aku harus banyak belajar untuk menerima keadaan, belajar menerima rasa sakit sebelum bertemu dengan bahagia. Aku yakin aku akan selalu baik-baik saja, kalau aku terus yakin pada kuasa-Nya.

Kepada Tuhan, terima kasih sudah menjagaku dan memberikan banyak hal baik yang terjadi di dalam hidupku. Kepada orang-orang baik, terima kasih sudah bersikap baik padaku. Maaf aku belum bisa membalas kebaikan kalian, tapi kuharap Tuhan selalu menjaga kalian dan mengabulkan segala doa kalian. Kepada diriku, terima kasih sudah bertahan hidup sampai detik ini.

Diriku, kamu hebat. Aku menyayangimu. Selalu dan selamanya.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top