Bagaikan di Taman Firdaus

: Ni

Hitam sudah menggantung di nabastala

Malam itu kali pertama bertemu

Aku bagai sedang menyusuri taman firdaus

Kudapati senja telah berlabuh di matamu

Semburat jingganya kian mendesir

Menyaingi lampu-lampu jalan sepanjang kota

Tepat pada telaga wajah nan teduh itu

Ada ranum buah merekah delima bibirmu

Langsat menempel pada selembar pipi

Bulan sabit bertengger di reranting alis

Desau angin malam pun mengecup dedaunan

Syahdu bak sajak-sajak pesisir

Datang membelai lembut gerai rambutmu

Mengikat pikat rekat bagai pukat nelayan

Ni,

Barangkali aku hanyalah buruh kekata

Menulismu yang berlumuran sajak

Jagalah selalu segala milikmu dari tatap zaman

Sajak-sajak yang telah diciptakan Tuhan

Agar tidak mudah tunduk pada setiap goda

Mata siapa yang tak ingin menjelma kalong?

Ni,

Di perut zaman yang semakin pelik ini

Tak sedikit yang memiliki seribu kemungkinan

Untuk pergi meninggalkan luka dan sesal

Tapi hanya satu yang akan memilih tinggal

Ia yang selalu menjadi rumah bagi segalamu

Kb, 07 Desember 2021

3 4 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top