Nara dan Undangan

Semburat jingga mulai terlihat di ufuk barat. Matahari hampir selesai menunaikan tugasnya ketika aku dan Nara berjalan bersisian.

Tidak ada lagi ‘kita’ setelah hari ini, yang ada hanyalah aku yang selalu mengharapkan aku dan kamu menjadi ‘kita’. 

Aku mengingat-ingat kembali ketika kemarin sore Nara mengajakku bertemu hari ini. Senang bukan main, akhirnya seorang Nara sosok sahabat sekaligus orang yang aku cintai mengajakku bertemu.

“Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu, Lam,” ucapnya sore itu.

Keesokan harinya aku mempersiapkan diriku dengan sepenuh hati. Memilih baju tercantik, memakai sepatu paling menawan, dan memoles wajah agar tampak merona. Ah, aku begitu mempersiapkan diri untuk mimpi buruk ini.

Aku dan Nara memiliki tempat favorit, sebuah kafe yang merangkap perpustakaan. Tempat inilah yang menjadi saksi bisu bagaimana bunga-bunga sakura dalam hatiku bermekaran untuk Nara.

Nara biasanya jarang datang tepat waktu, tapi hari itu ia datang lebih cepat. Harusnya aku menyadari bahwa ini adalah pertanda. Namun, musim semi di hatiku menolak semua prasangka buruk.

“Nara, maaf aku terlambat. Kamu sudah lama menunggu?” 

“Aku juga belum lama tiba di sini,” ucap Nara.

Aku menangkap sorot mata Nara yang gugup. Jarang sekali melihat Nara segugup ini kecuali hal-hal yang serius.

“Nilam, ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu.” Nara tampak semakin serius. Ia mengusap kedua tangannya di atas meja dengan gelisah.

Musim semi di hatiku mulai ragu tentang hal yang ingin Nara bicarakan. Apakah Nara akan mengatakan sesuatu yang selama ini ingin aku dengar?

“Lam, bulan depan aku akan menikah.”

Cepat sekali. Padahal sepuluh detik yang lalu dunia yang kulihat masih penuh warna, setelah kalimat yang Nara ucapkan dunia perlahan menjadi kelabu.

“Aku mencintai seseorang, Lam. Aku ingin hidup dengannya selamanya.”

Aku dan Nara sudah lama bersahabat, mungkin sekitar enam tahun lamanya. Nara tidak pernah tau bahwa ada bunga yang bermekaran di hatiku untuknya atau ia memilih pura-pura tidak tau.

“Serius, Nara? Kok kamu tidak pernah memberitahuku kalau kamu punya pacar? Enggak adil, selama ini aku selalu curhat ke kamu.” 

Kedua mataku mulai memanas. Aku berusaha menahan agar air mataku tidak keluar dengan terus berceloteh hal-hal yang tidak perlu.

“Sudah berapa lama, Nara? Apa aku kenal dengan perempuan itu? Duh, lihat aku terharu sekali karena kamu mau menikah.” 

Aku tidak bisa menahannya lagi. Air mataku mengalir deras. Aku bahkan tidak bisa berpura-pura bahagia di depannya.

“Maaf, Lam. Maaf selama ini aku tidak pernah bercerita. Aku tidak bisa menyakitimu terus-menerus.”

Hari ini aku tau bahwa Nara menyadari ada bunga yang bermekaran di hatiku untuknya. Namun, ia memilih untuk tidak menyambut musim semi di hatiku ini.

“Aku mengundangmu ke pernikahanku dengan tulus sebagai sahabat, Lam. Aku mau kamu ada di hari spesialku nanti.” 

Nara mengeluarkan undangan berwarna merah muda yang tampak manis dengan hiasan bunga sakura berguguran. Aku semakin tidak tahan lagi. Aku tidak ingin melihat Nara.

“Aku antar kamu pulang ya, Lam.”

Aku menuruti Nara dan berjalan pulang dengannya. Nara tidak bisa berbuat banyak selain membiarkan aku menahan isak tangis.

Saat hampir sampai rumahku, matahari telah sempurna menghilang dan bulan sudah muncul untuk menggantikan matahari. Saatnya berpisah dengan Nara dan masa depan yang aku harapkan dengannya.

“Nara, terima kasih banyak untuk selama ini. Berbahagialah selalu.” 

Nara tersenyum ketika mendengar ucapanku, lantas berbalik dan berjalan meninggalkanku. 

Hari itu, aku dan Nara telah menyelesaikan sesuatu yang bahkan belum kita mulai.

4.2 5 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Aida
Aida
1 month ago

Sakittt😭😭😭

Top