Malam pergantian tahun ini sama dengan dua tahun belakangan. Saya memilih di kamar setelah menyelesaikan tugas membakar beragam lauk. Dari tahun ke tahun, alat panggang jadi favorit keluarga.
Hiruk pikuk sanak saudara yang berkumpul dengan beragam permainan tak ketinggalan sambil menunggu makanan siap disantap beberapa jam sebelum waktu pergantian tahun tiba.
Perenungan. Atau lebih pasnya bengong. Lebih menarik minat saya. Tumpah ruah segala macam visualisasi di kepala. Tentang keluarga sampai urusan negara. Bercabang-cabang dan penuh tafsiran. Tapi semuanya hanya berakhir di pikiran sendiri.
Ketika berpaling ke media sosial. Yang serupa dengan saya amat banyak. Mereka luapkan dalam konten dan tulisan di kolom komentar. Dari sana, selalu ada dua penilaian. Kalau tidak baik, ya jahat. Bahkan tak jarang terlalu liar tafsirannya. Porsi muatannya lebih ke duga-duga tapi serupa kebenaran yang mutlak. Padahal yang dikedepankan adalah asumsi.
Sebuah kebijakan lahir. Jakarta melarang pesta kembang api karena alasan empati dengan korban bencana Sumatra. Namun di beberapa tempat pengungsian justru difasilitasi untuk menyalakan kembang api sebagai bentuk penghiburan.
Seharusnya yang kita lihat bukan salah dan benar. Melainkan kesesuaian penanganan atau kebijakan dengan kondisi yang tidak sama. Di Jakarta berempati dengan tidak merayakan. Sementara di Sumatra butuh penghiburan.
Lalu kita yang hanya memantau dari layar gawai. Apa layak juga untuk menghakimi keputusan mereka di sana?
Tidak semua persoalan harus diberikan penilaian dengan aksi dan reaksi. Sederhananya, kita tidak ada di sana. Tidak berinteraksi langsung. Tidak mendengar apa yang dibutuhkan dan dirasakan mereka di malam pergantian taun baru. Bisa saja, anak-anak dan orang dewasa di sana memang butuh hiburan.
Bukankah kematian juga dirayakan dengan nyanyian. Sementara umat lain justru pengajian. Apakah lantas kita menjadi ribut dan mempertentangkan? Dengan amalan tenggang rasa, hal itu tak jadi perkara.
Letusan kembang api bisa saja menyeka pilu yang sedang merembes beberapa minggu ke belakang. Walaupun sementara, tapi sangat berarti bagi mereka. Pasti ada pula yang memilih bermuhasabah dalam sunyi.
Seperti yang dibilang Hopper di akhir kisah Stranger Things. Kepada Mike ia berkata, “Kau punya satu jalan, di mana kau terus menyalahkan dirimu. Kau terus memikirkannya, berharap bisa bertindak berbeda. Kau menjauhi orang dan memilih menderita, karena menurutmu itu yang pantas untukmu. Lalu ada jalan lain, di mana kau menemukan cara untuk menerima kejadian itu. Bisa menerima pilihannya. Bukan berarti kau harus suka dan memahaminya. Tak usah kau pikirkan. Terima saja. Jalani kehidupanmu sebaik mungkin. Aku sudah melewati jalan yang pertama. Aku tak menganjurkannya.“
Kata kuncinya “menerima”. Belum lama ini kita dihadapkan pola komunikasi yang kurang pas dari pemerintah. Hingga muncul terminologi “rakyat vs pemerintah” setiap ada inisiatif yang diklaim dan dipublikasikan.
Andai saja imbauan yang bernada defensif itu bisa disampaikan dengan apresiatif. Memuji aksi rakyat lalu mengajak bersama-sama untuk bahu-membahu saling membantu. Karena pada praktiknya, bantuan dari masyarakat yang dikumpulkan secara kolektif juga diangkut oleh instrumen kargo milik pemerintah.
Dalam situasi ini, kita bisa pastikan keduanya punya niat yang sama; menolong rakyat. Hanya saja responsnya berbeda dalam penanganan bencana yang besar ini.
Semua punya pilihan. Punya pertimbangan. Dan yang paling bernilai, punya kebijaksanaan. Dan kita paham, tak mudah untuk siapa pun berjuang sampai di titik ini.
Menyederhanakan persoalan yang sengaja dibuat rumit oleh mereka yang menginginkan perpecahan terjadi adalah kunci selain doa ibu yang terus mengiringi hingga tahun berganti setiap tahunnya. Semoga kita tidak di titik yang itu-itu saja.
Apakah kita sadar terus dibentuk menjadi generasi sumbu pendek yang mendapatkan bahan bakar dari konten-konten media sosial? Potongan video pendek dalam YouTube Shorts, TikTok, X, dan sejenisnya membuat kita kehilangan kemampuan untuk berkonsentrasi penuh menganalisis tiap informasi. Karena kita jarang sekali untuk mendengarkan perintah ibu lalu menyesalinya di kemudian hari.
Tapi ibu tidak putus doanya, konsisten diberikan untuk kita. Tak ada yang lebih bijak dari saran orang tua, menerima keadaan dengan fokus menjalani hidup sebaik mungkin adalah hal yang terbaik untuk bertahan.