Perihal kehidupan, ternyata ia memang jenaka apa adanya. Tujuh milyar manusia, katanya, namun ia gemar sekali mempertemukan sebelum akhirnya memisahkan—menjadikan yang awalnya asing menjadi tak asing, sebelum akhirnya kembali menjadikannya asing. Berpindah mengetuk dari satu hati ke hati yang lainnya, hanya untuk sekedarnya singgah sementara. Berpindah secara berkala sampai akhirnya kita lupa, sudah berapa banyak jiwa yang pernah singgah sebelum akhirnya kembali pergi sepenuhnya?

Mungkin terdengar antagonis, bagaimana terkadang hidup mendekatkan dua yang bersinggungan, hanya untuk pada akhirnya kembali dipisahkan melalui dua jalan yang tak akan pernah lagi bertemu di persimpangan. Namun kalau jatuhkan salah pada semesta, rasa-rasanya tak adil juga.

Mungkin memang sudah seharusnya hidup menjadi jenaka apa adanya. Mendekatkan untuk sekedarnya jadi pelajaran, alih-alih menjadi akhir yang bahagia seperti dongeng penghantar tidur yang dulu kerap dibacakan Ayah dan Bunda. Mungkin memang bukan salah siapa-siapa, bagaimana dua yang bersinggungan kemudian harus berpisah di persimpangan jalan. Namun memang bagian yang paling menyakitkan dari sebuah pertemuan itu sendiri adalah asing yang menjadi tak asing, sebelum akhirnya kembali menjadi asing. Sebuah siklus kehidupan paling sialan yang pernah ada. Bagaimana tidak? Ia menjadikan seseorang yang awalnya tak pernah bersinggungan, menjadi bagian paling signifikan sebelum akhirnya ia kembali bertolak tak lagi jadi bagian. Lalu apa makna dari semua yang ada? Rutinitas tak lagi jadi bagian paling menyenangkan. Terbangun di pagi hari pun rasanya terkadang menyesakkan. Membayangkan sosok mereka yang dulunya begitu signifikan, kemudian jadi asing tak lagi punya bagian, rasanya seperti menaburi luka basah dengan garam, menjadikan hidup begitu suram.

Mereka yang dulunya selalu bersama, kemudian jadi asing untuk satu dan yang lainnya. Mereka yang pernah buat janji, kemudian harus mengingkari karena tak lagi mampu mengisi. Pun mereka yang telah tiada, sedikit banyak juga meninggalkan luka untuk alpa yang kini akan selalu ada.

Aku, kamu, dan kita semua; rasa-rasanya kita setuju bahwa kita pun pernah mengalaminya. Namun lagi-lagi, mungkin memang sudah seharusnya hidup menjadi jenaka apa adanya. Hingga pada akhirnya, tak akan ada lagi yang mampu kita lakukan selain mengatakan;

terima kasih untuk setiap kedatangan, untuk setiap pelajaran, untuk setiap kehadiran, untuk setiap singgah yang tak pernah menjadikannya rumah, untuk setiap tinggal yang telah tanggal, untuk setiap ada yang kini alpa, untuk setiap mimpi dan aspirasi yang pernah dibagi, untuk setiap doa dan cipta, untuk segalanya, hanya terima kasih yang mampu aku tawarkan. Kedua tangan ini mungkin tak mampu menghentikan kepergian kalian, namun percayalah ingatan akan selalu terpelihara baik adanya. Jangan lupa, apabila suatu saat lelah menjalani semua yang ada, ingatkan diri kalian bahwa pernah ada aku yang jadi bagian paling signifikan dalam kehidupan, sebelum akhirnya hilang tak berbekas, tak lagi punya bagian.

Terima kasih karena telah bersinggungan. Semoga kembali bertemu di persimpangan, di lain kehidupan. Jaga baik-baik diri kalian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment