folder Filed in Prosa, Sendiri, Yang Lain
Serangan Fajar
Serangan fajar itu nyata, katanya. Sebagaimana aku lupa bahwa kamu pernah ada, dan tiba-tiba saja... kamu tak lagi ada.
Tata comment 3 Comments access_time 2 min read

Serangan fajar itu nyata, katanya. Menunggu untuk menyerang mereka yang tidak awas, menghancurkan apa yang tidak mereka sadari mereka miliki, menanti waktu yang tepat untuk mencuri sampai akhirnya mereka sadari bahwa hilang kini telah jadi teman mereka yang pasti. Iya benar, serangan fajar itu nyata, katanya. Sebagaimana aku lupa bahwa kamu pernah ada, dan tiba-tiba saja… kamu tak lagi ada.

Beberapa tahun berlalu sejak hari pertama aku mengenalmu. Beberapa tahun pula berlalu sejak hari terakhir aku berjumpa denganmu. Rasanya lucu ketika mengingat hidupmu, yang sebagian besar naik turunnya disebabkan olehku. Tentang bagaimana kau mencoba sebisamu untuk menahan aku, dan tentang bagaimana kau mencoba sebisamu untuk menguatkanku.

Mungkin memang sudah dari sananya manusia tak akan pernah merasa cukup. Sebagaimana aku yang tak pernah benar-benar menganggap keberadaanmu dengan sungguh sebagaimana seharusnya aku. Padahal, kamu selalu ada dalam setiap naik turunku, membantuku bangkit di setiap turunku dan bertepuk tangan bangga di setiap naikku. Tak pernah sekali pun kau mengeluh perihal si bodoh satu itu.

Sampai satu hari, kau memutuskan untuk pergi, hengkang dari tempat ini tanpa pernah lagi menoleh kembali. Di awal kepergianmu, rasanya seperti tak ada yang salah. Kupikir, aku bisa hidup tanpamu. Namun nyatanya, aku sudah terlalu terbiasa dengan hadirmu, sampai-sampai aku lupa bagaimana rasanya tak ada kamu. Si bodoh satu itu lupa tentang caranya menghargai, tentang caranya mengapresiasi, tentang caranya mengucap terima kasih. Si bodoh satu itu lupa bahwa tak selamanya semua akan terus ia miliki. Si bodoh satu itu lupa bahwa kau tak akan selamanya ada di sini.

Maaf telah menyia-nyiakan. Maaf tak pernah benar-benar menghargai keberadaan. Maaf baru mengerti arti kebersamaan setelah kau tinggalkan. Kalau boleh kuminta satu hal, tolong beriku satu lagi kesempatan, tolong kembali dan jangan lagi pergi. Namun kalau tak bisa kembali, mungkin hanya ada satu pelajaran yang bisa kupahami dari alpanya kamu di sini. Terima kasih telah cukup mengisi. Terima kasih telah ada dan hidup di dunia. Terima kasih telah mendewasakan dengan cara yang sederhana.

Serangan fajar itu nyata, katanya. Menunggu untuk menyerang mereka yang tidak awas, menghancurkan apa yang tidak mereka sadari mereka miliki, menanti waktu yang tepat untuk mencuri sampai akhirnya mereka sadari bahwa hilang kini telah jadi teman mereka yang pasti. Iya benar, serangan fajar itu nyata, katanya. Sebagaimana aku lupa bahwa kamu pernah ada, dan tiba-tiba saja… kamu tak lagi ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment