Menyelami “Bagaimana Jika”

Beberapa waktu lalu, saya baru saja menyudahi satu lagi hubungan singkat yang sempat saya jalin beberapa bulan belakangan. Dan kemarin, tanpa sengaja, saya menemukan sebuah film pendek berjudul “Kisah 3 Tahun” di YouTube yang cukup menggambarkan permasalahan yang saya punya. Setelah menuntaskan film tersebut, tentu saja saya kembali teringat dengan kisah romansa milik saya yang harus kandas begitu saja. Saya menerka-nerka mengenai kemungkinan yang ada seakan hal itu dapat mengobati sedikit kesedihan yang masih saya rasa.

Kalau saja saya tidak pernah mengutarakan apa yang saya rasa hari itu, mungkin dia masih akan tinggal sekarang.

Kalau saja saya tidak memilih untuk pergi menemuinya hari itu, mungkin saya tidak harus mengenal sosoknya dalam hidup.

Kalau saja saya…

Tiap kita pasti pernah berada pada fase serupa━tenggelam dalam perandaian tanpa dasar mengenai kemungkinan-kemungkinan hidup. Kalau saja kita memilih persimpangan jalan lain, mungkin kehidupan yang kita jalani sekarang akan jauh berbeda. Tentu saja, kemungkinan itu ada. Namun ada sesuatu mengenai perandaian yang sedikit menggelitik kepala saya. Yang menjadi pertanyaan saya: mengapa manusia sering sekali mengaitkan makna diri dengan semua hal yang sudah terjadi? Mengapa manusia sering sekali menyalahkan dirinya untuk sesuatu yang bukan menjadi kapabilitasnya?

Dalam sebuah artikel yang pernah saya baca, saya menemukan fakta menarik mengenai perandaian. Dalam artikel tersebut, perandaian semacam ini disebut juga sebagai counterfactual history━bagian dari historiografi yang mencoba menjawab pertanyaan “what if” yang secara faktual berkontradiksi dengan sejarah yang sudah ada. Berdasarkan perkembangan literatur sejarah modern, counterfactual history kemudian berkembang menjadi sebuah genre sastra tersendiri. Penulis-penulis yang membahasnya mencoba memecahkan kemungkinan sejarah dengan alur yang berbeda dari apa yang sudah terjadi.

Untuk memahami counterfactual history dengan lebih mudah, saya akan memberi contoh sederhananya. Seperti yang kita ketahui dalam pelajaran sejarah Indonesia, pemuda bangsa kita berhasil mempelopori gagasan untuk memproklamasikan kemerdekaan tepat ketika berita mengenai kekalahan Jepang di Perang Dunia II tersiar ke seantero negeri. Dan seperti yang kita ketahui juga, Jepang kalah setelah Amerika berhasil menjatuhkan bom atomnya di Hiroshima dan Nagasaki. 

Yang menjadi pertanyaannya: kalau saja Amerika tidak pernah melepaskan bom atomnya di atas Hiroshima dan Nagasaki pada awal Agustus 1945, akankah Indonesia tetap mendapatkan kemerdekaannya pada tahun yang sama? Bagaimana jika Amerika tidak pernah membombardir Jepang sama sekali dan Jepang tidak pernah kalah dalam Perang Dunia II? Mungkinkah kita tetap mengumandangkan lagu “Indonesia Raya” pada setiap 17 Agustus? Mungkin, apabila Amerika tidak pernah menghunjamkan  bom atom itu, Jepang tidak akan pernah kalah. Dan apabila Jepang tidak pernah kalah, mungkin Indonesia tidak akan pernah memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Lalu apabila negara kita tidak pernah merdeka pada 17 Agustus 1945, mungkin Husein Mutahar tidak akan pernah menciptakan lagu “Hari Merdeka” yang kita kenal hari ini. Pada akhirnya, kemungkinan demi kemungkinan akan terus tumbuh dalam fakta yang berkontradiksi.

Sejarah alternatif inilah yang kemudian menumbuhkan gagasan mengenai counterfactual history yang digunakan oleh beberapa tokoh filsafat dan sejarawan untuk menelaah setiap probabilitas terbaik yang mungkin terjadi berdasarkan sejarah yang sudah ada. Secara gampangnya, counterfactual history mengajarkan kita mengenai teori sederhana sebab dan akibat.

Sama seperti kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dalam hidup ini, tentunya setiap persimpangan yang kita pilih akan selalu mengantarkan kita pada konsekuensi yang berbeda-beda. Namun tak berarti kemungkinan yang tidak kita pilih adalah kesalahan yang kita buat. Pada dasarnya, setiap pilihan yang kita ambil akan membawa kita pada lebih banyak pilihan di depan sana. Dan yang perlu kita pahami mengenai perandaian ialah dirinya tidak pernah nyata sejak awal kita lontarkan dari mulut kita.

Manusia masih sering menyalahkan dirinya atas kejadian yang tentunya berada di luar kapabilitasnya. Padahal menurut saya, bukan salah kita apabila semua hal terjadi sebagaimana yang sudah terjadi. Kita tidak akan bisa mengembalikan kematian. Kita tidak akan bisa menahan keputusan seseorang yang ingin pergi dari hidup kita. Kita tidak akan bisa mengubah masa lalu walau sudah berkali-kali menenggelamkan diri dalam perandaian yang ada. Dan tentunya bukan salah kita juga apabila sesuatu tidak berjalan sesuai dengan rencana.

Perandaian tidak akan pernah membawa kita ke mana pun dalam hidup. Ia hanya ada untuk sekadar mengingatkan bahwa kita bertumbuh karenanya. Benar, tak ada salahnya untuk sesekali menoleh ke belakang dan berkontemplasi dalam perandaian. Namun jangan pernah biarkan dirimu tenggelam terlalu lama. Karena pada akhirnya, bukan salahmu apabila seseorang memilih untuk meninggalkan hidupmu. Kita tidak bertanggung jawab atas kebahagiaan siapa pun selain diri kita sendiri.

Dan menurut saya, bagaimanapun ceritanya, berakhir bahagia atau tidak, seharusnya kita bisa lebih memahami bahwa makna diri kita jauh lebih besar dari sekadar perandaian mengenai “kalau saja saya bisa menahannya, mungkin ia masih akan ada”.

Percayalah, bukan salah kita.

 

Bacaan lebih lanjut: 

5 2 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top