Machiavellianisme: Memanfaatkan atau Dimanfaatkan?

Ketika berbicara tentang kepribadian, orang-orang di sekitar saya pernah beberapa kali mengatakan bahwa saya adalah pribadi munafik yang manipulatif. Ketika saya tanya mengapa mereka berkata demikian, mereka bilang saya terlalu sering berpura-pura baik kepada mereka yang sebenarnya tidak benar-benar saya sukai. Mereka juga bilang bahwa saya bisa dengan mudah mengambil hati orang lewat ucapan saya. Entahlah. Yang saya tahu, saya lantas menjadi penasaran ketika mereka menilai saya seperti itu.

Satu-satunya hal yang menjadi pertanyaan dalam benak saya adalah: apa tolok ukur manipulatif itu sendiri?

Setelah saya telusuri mengenai sifat yang satu ini, ternyata dalam ilmu psikologi, manipulatif adalah salah satu sifat yang dimiliki oleh orang-orang dengan kepribadian Machiavellianisme. Penamaan kepribadian ini sendiri diambil dari nama seorang filsuf abad 15, Niccolo Machiavelli, penulis buku The Prince yang berisi tentang pandangannya mengenai sifat-sifat yang seharusnya dimiliki oleh seorang penguasa. Menurut Machiavelli, seorang penguasa boleh melakukan segala cara untuk tetap mempertahankan kekuasaannya, sekalipun itu harus membunuh lawan politiknya.

Kepribadian Machiavellisme ini sebenarnya baru marak diperbincangkan setelah dua orang psikolog, Richard Christie dan Florence L. Geis, membuat skala Machiavellisme sebagai alat ukur sikap Machiavellisme dalam diri seseorang. Orang-orang berkepribadian ini adalah mereka yang merasa memiliki kekuasaan lebih terhadap seseorang ketika mereka bisa mengontrol emosi lawan bicara, senang melontarkan hal-hal sinis, serta mengabaikan moralitas yang umumnya berlaku karena beranggapan bahwa norma-norma yang ada tidak selamanya akan membawa mereka pada hal-hal yang menguntungkan.

Yang menarik setelah melakukan beberapa riset demi menjawab pertanyaan saya sendiri, saya jadi berpikir tentang hal-hal manipulatif yang mungkin pernah atau sering kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Saya pikir tiap kita pasti pernah bersikap baik kepada orang walau kita tau kita tidak benar-benar menyukai mereka. Saya pikir tiap kita pun pasti pernah berpura-pura baik kepada seseorang yang kita tau keberadaannya bisa memberikan manfaat tersendiri untuk kita. Tapi lagi-lagi, apakah bersikap manipulatif lantas menjadikan kita seorang Machiavellis? Tentunya tidak juga, ‘kan?

Waktu kecil, Ibu mengajarkan saya untuk selalu bersikap baik kepada siapa pun itu. Dan saya pikir, hal itulah yang kemudian menjadi bekal hidup yang saya bawa hingga dewasa. Menurut saya, ada batas tak kasatmata yang bisa menjadikan sesuatu yang baik menjadi tidak baik. Dalam konteks ini, mungkin kata “terlalu” bisa menjadi tolok ukurnya. Saya percaya apa pun yang terlalu dan berlebihan itu tidak pernah baik. Dan dalam konteks ini pula, saya rasa mereka yang memiliki kepribadian Machiavellisme ialah mereka yang merasa “terlalu” berkuasa atas apa yang mereka rasa.

Pada akhirnya, menurut saya bersikap baik itu harus. Kalaupun kita harus berbaik hati kepada orang yang tidak kita sukai atau mereka yang kita tau dapat memberikan kita manfaat tersendiri pada akhir hari, selama hal itu tidak merugikan orang lain, kenapa tidak? Hidup itu sendiri adalah rimba yang memaksa kita untuk tetap bertahan di dalamnya. Kalau lain kali ada orang yang kembali melabeli saya manipulatif, saya akan bilang bahwa sejak awal memang ada nilai baik yang saya bawa dalam diri saya sendiri. Toh pada akhirnya, semua itu hanyalah cara saya bertahan di hidup yang rimba ini.

Selama tidak “terlalu”, saya pikir tidak ada salahnya. Selama tidak menjadi antagonis dalam cerita manusia lainnya, jalani saja.

Bacaan lebih lanjut:

History. 2018. “Machiavelli”. Diakses pada 14 Oktober 2021.

Jacobson, Sheri. 2015. “What is Machiavellianism in Psychology?”. Diakses pada 14 Oktober 2021.

Putri, Gemala Khalida Rakhmasari. “Mengenal Lebih Dalam tentang Kepribadian Machiavellianism”. Diakses pada 14 Oktober 2021.

3.4 7 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top