Kintsugi—Sebuah Proses Kehidupan

Perihal hidup, saya rasa tak ada satu pun dari kita yang ahli dalam menjalaninya. Kalaupun ada, saya yakin ia hanya mengada-ada saja. Kalaupun ada, ia tak pernah ada. Artinya, ya memang tidak ada. Lantas maksud ucapanmu apa? Mungkin setelah ini kau akan bertanya demikian, ya. Entah mungkin karena sudah terlalu kesal membaca beberapa kalimat pertama pada tulisan saya yang selalu tak pernah ada ujungnya. Tapi tak apa, tolong bantu saya barang sejenak saja untuk terus membaca tulisan ini, ya?

Maksud yang ingin saya sampaikan sebenarnya ada pada fakta bahwa memang hidup itu berproses. Katanya, practice makes perfect. Tapi apa lantas sempurna itu ada, ya? Saya rasa sih, tidak. Terlebih ketika subjeknya manusia. Menurut saya, memang sudah hakikatnya kita jadi tidak sempurna. Walau sebenarnya memang sudah dikatakan dalam banyak kitab bahwa manusia adalah mahluk Tuhan paling sempurna, namun saya sendiri masih merasa jauh dari kata itu. Hanya karena kau adalah mahluk Tuhan yang katanya paling sempurna, lantas tak menjadikan dirimu sempurna sepenuhnya.

Karena dalam kehidupan, banyak persimpangan yang pada akhirnya menempa kita untuk tetap bertahan dan ada.

Kita semua pasti setuju, setiap manusia pasti memiliki jalan yang berbeda-beda. Bisa jadi seseorang tumbuh dalam keluarga yang tidak sempurna—Ayah yang abusive, Ibu yang kerap menangis sendirian, kakak yang selalu memendam amarah pada Ayah. Lantas ia tumbuh jadi dewasa yang tidak mempercayai dunia. Bisa jadi seseorang tumbuh dalam keluarga yang bahagia namun tak pernah ada perasaan penuh yang ia rasa—Ayah dan Bunda yang sibuk bekerja, kasih sayang sekadarnya berupa materi berlebih saja, tanpa pernah ada kecupan selamat malam sejak kecil dari keduanya. Lantas ia tumbuh jadi dewasa yang terus mencari kebahagiaan di setiap sudut kehidupan yang ada, entah persimpangan ramai manusia ataupun gorong-gorong kumuh yang kemudian menjatuhkannya. Bisa jadi pula seseorang tumbuh dalam kemiskinan berkepanjangan—Ibu yang sakit keras, Bapak yang hanya buruh harian dengan gaji 5.000 rupiah saja, adik yang masih kecil. Lantas ia tumbuh jadi dewasa yang merasa harus terus berusaha, walau dunia pada akhirnya tetap saja kejam padanya. Kemudian ia tetap saja berakhir pada lingkaran kemiskinan yang ada karena memang nyatanya realita tidak pernah semudah talkshow-talkshow motivasi para pebisnis muda.

Ada beberapa dari kita yang masih bersedih karena kemiskinan yang tak pernah ada jeda. Ada beberapa dari kita yang masih bersedih karena keluarga yang tidak bahagia. Ada beberapa dari kita yang masih bersedih karena pasangan yang berakhir memutuskan hubungannya setelah berjanji akan menikahinya. Ada beberapa dari kita yang masih bersedih karena kematian anak, istri, suami, keluarga, atau siapapun yang dikasihinya. Ada beberapa dari kita yang masih bersedih karena kehilangan pekerjaannya. Ada beberapa dari kita yang masih bersedih karena TransJakarta yang belum datang juga. Ada beberapa dari kita yang masih bersedih karena melihat anaknya menangis kelaparan dan tak ada yang bisa kita berikan selain pelukan dan rasa bersalah berkepanjangan. Ada beberapa dari kita yang masih bersedih hari ini. Ada beberapa lagi yang mungkin sudah pulih hari ini. Namun yang pasti, kesedihanku bukanlah tolok ukur untuk kesedihanmu. Hanya karena masalahmu terasa lebih besar, lantas aku tak boleh bersedih untuk apa yang aku rasa.

Sayang, jalan dunia itu begitu adanya.

Kalian tahu tidak, ada sebuah seni tradisional di Jepang bernama Kintsugi. Secara garis besar, kesenian ini adalah sebuah seni memperbaiki tembikar yang rusak atau retak. Biasanya, orang-orang akan berbondong memperbaiki keramik mereka yang rusak dengan menyusun dan menggabungkan kembali bagian-bagian pecah belah itu menggunakan pernis khusus yang dicampur dengan emas atau perak. Menurut beberapa sumber yang saya temukan, kesenian ini berawal sekitar abad 15 ketika seorang prajurit Jepang bernama Ashikaga Yoshimasa yang pada saat itu tidak sengaja menjatuhkan mangkuk teh kesayangannya dan mengirimkannya kembali ke Cina untuk diperbaiki. Sayangnya, mangkuk teh itu ditambal dengan logam seadanya sehingga tak lagi terlihat cantik. Yoshimasa pun kemudian mengutus seorang pengrajin lokal untuk memperbaiki mangkuk kesayangannya tersebut agar kembali menjadi cantik. Dan tanpa ia sangka, mangkuk yang kembali ke tangannya ditambal dengan emas, menjadi jauh lebih cantik dari sebelumnya.

Kalau dipikirkan lagi, menurut saya filosofi yang ingin disampaikan dalam kesenian ini sangatlah mendalam. Tak hanya untuk sekadar memperbaiki dan mempercantik saja, seni ini adalah sebuah refleksi untuk diri. Dalam kehidupan, ada kalanya sedih kembali menghampiri lagi pagi ini, kemudian kita kembali terjatuh hingga retak dan terluka. Hebatnya, setelah jatuh, pelajaran kehidupan mampu rekatkan lagi retak yang sudah ada. Kemudian alih-alih menjadi tidak sempurna, bagian-bagian carut itu lantas terisi dengan pelajaran ada. Dan kau kembali utuh lagi pada akhirnya.

Mungkin klise untuk mengatakan ini, mengingat apa pun yang pecah dan retak tak akan lantas jadi utuh sepenuhnya setelah diperbaiki. Karena luka itu akan tetap ada, ia akan selamanya membekas di sana. Tapi tidakkah nyaman untuk memikirkan hal itu—bagaimana sebenarnya sejarah cerita yang ditorehkannya memberikan kita esensi untuk terus melangkah menepis dunia? Begitu seterusnya hingga kita lantas jadi ahli perihal kehidupan dunia (walau sebenarnya saya masih percaya bahwa tak ada satu pun dari kita yang akan jadi salah satunya).

Tak tak apa, toh apa pun yang kau rasa itu akan selalu valid untuk dirasa. Untuk setiap jatuh yang meninggalkan luka, untuk setiap sedih yang masih dirasa, untuk setiap amarah yang harus disampaikan malam ini juga—kalian adalah bukti bahwa hidup akan selalu berputar pada prosesnya. Dan tenang saja, kalau kau pikir bahwa kau adalah munafik yang melihat suatu hal dengan cara berbeda, percayalah kau bukan salah satunya. Prosesmu akan selalu mendewasakanmu. Hanya karena kau melihat sesuatu dengan cara yang tak lagi sama dengan satu tahun lalu, kau bukanlah munafik yang membohongi hatimu. Kau hanya sedang bertumbuh. Dan walau kau, aku, dan kita semua tak akan pernah jadi ahlinya, saya rasa sudah sepatutnya hidup dirayakan dengan gempita. Agar kelak kita tetap mengingat bahwa hidup ialah perihal cerita yang akan selalu mendewasakan kita.

Dan kau akan baik-baik saja.

1
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Mochammad Irgi Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Mochammad Irgi
Guest
Mochammad Irgi

Tulisan yang bagus , keep the good writing

Top