Ketika Kecewa Jadi Teman

“Jangan berekspektasi terlalu tinggi. Kalau tidak terpenuhi, nanti sakit hati.” 

Banyak orang yang mengatakan itu kepadaku sejak dulu. Yang walau sebenarnya tanpa diucapkan secara lantang pun aku mengerti, bahwa ketika ekspektasi masih terus saja kugantung pagi ini, maka kecewa kerap kali jadi teman di akhir hari. Tapi kurasa itu adalah hal yang wajar. Mengapa? Karena lantas kita akan belajar. 

Beberapa tahun belakangan, aku kerap kali tersandung pada ekspektasi. Tepatnya lagi, kugantungkan ekspektasi pada hati yang tak berniat tinggal di akhir hari. Cerita klasik memang, bagaimana cerita jatuh ini berawal dari jatuh cinta. Kemudian mengharapkan apa yang bukan bagiannya. Kemudian ketika tak mendapatkannya, lantas kecewa kembali jadi teman kita. 

Mungkin kalau kecewa bisa bicara, ia akan utarakan kelelahannya. Bagaimana banyak sekali jiwa yang bergantung pada harap, namun alih-alih datang harap, Tuhan utus kecewa untuk datang pada kita. Tuhan katakan pada kecewa untuk temani kita sebentar saja. Mungkin jauh di sana Tuhan berpesan pada kecewa, “Manusiaku satu ini sedang bersedih, temanilah barang sebentar saja.” Begitu seterusnya hingga kecewa pun lupa pada maknanya. 

Tapi mungkin tidak begitu denganku. 

Sejak kecil Bunda dan Ayah kerap ingatkan padaku bahwa tak selamanya hidup akan beri kita bahagia. Tak selamanya harap akan jadi nyata. Tak selamanya dunia berputar untuk kita saja. Ada banyak kemungkinan-kemungkinan yang akan bawa kita pada kesedihan, kekecewaan, keraguan, kemarahan, ataupun perasaan-perasaan lainnya yang akan buat kita mengerti bahwa bahagia bukanlah satu-satunya rasa yang ada. 

Ketika berada di titik terendah sekalipun, aku yakin kita akan mengenal diri kita lebih jauh pada akhirnya, hingga lantas mampu berpikir, 

“Oh iya, ternyata kecewa punya makna. Pun sedih juga ingin sampaikan pesannya. Ketika jatuh buatmu sakit, ternyata mereka hanya ingin kita mengerti pelajarannya. Hidup memang jenaka adanya. Kerap buat kita naik setinggi-tingginya, seakan bahagia hanya jadi satu-satunya rasa yang kita kenali keberadaannya. Namun kerap juga buat kita tersandung pada batu di depan sana, lalu tersungkur mengenai banyaknya serpihan kaca yang buat kita lebih terluka.” 

Benar, jangan terlalu banyak gantungkan ekspektasi pada banyak hati, agar kecewa tak lagi jadi teman di akhir hari. Tapi kalaupun sudah terlanjur gantungkan ekspektasi pagi ini, kemudian tersandung dan jatuh setelahnya, setidaknya kita belajar karenanya. Ternyata, jatuh pun mampu menguatkan. Dan berteman dengan kecewa tak sepenuhnya jadi hal yang salah. 

Besok lusa, akan kupeluk kecewa apabila ia datang kembali. Agar aku pun mengerti, kecewa hanya menemani. Dan kelak ia akan menguatkanku lagi.

3
Leave a Reply

avatar
3 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
3 Comment authors
RaraninaNadhira Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Nadhira
Guest
Nadhira

terima kasih suda menyadarkan:) luv u tata<3

nina
Guest
nina

tulisannya bagus sekali, saya yang kerap kali menaruh harapan tinggi kepada orang-orang sekarang saya tahu harus bagaimana. Terimakasih. Semoga harimu menyenangkan!

Rara
Guest
Rara

Tulisannya bagus banget,sangat relate. Izin menyuarakan boleh?

Top