Kemarin, aku pulang kala mentari sudah kembali bersembunyi di balik bahari. Di tengah kota Jakarta yang penuh akan hiruk pikuk manusianya, aku membaur, tersaur, tersungkur. Rasanya kecil, mengecil, kemudian nihil. Entah apa yang aku rasa saat itu, namun rasanya memuakkan. Ketika kulihat seisi jalanan padat ibukota, selasar pertokoan yang dipenuhi manusia tanpa rumah, KRL yang padat tanpa adat—rasanya sesak. Iya, sesak melihat kehidupan yang silih berganti.

Selama ini aku memiliki hubungan cinta dan benci dengan kota ini. Ibukota, katanya. Tapi tak ada “ibu” di dalamnya. Manusia yang dipaksa bertahan di tengah kerasnya kehidupan. Ibukota kita ini lucu ya? Beragam wajah, karakter, jiwa, atau apapun namanya—semua bergumul jadi satu. Heterogenitas kehidupan di dalamnya berjalan saling berdampingan walau kerap kali bergesekkan.

Ibukota kita ini lucu ya? Ada seorang ibu yang menggenggam erat sebuah boneka di dalam KRL tujuan Depok, dengan peluh keringat di dahinya, berharap cepat sampai ke rumah untuk memberikan kado ulang tahun untuk anaknya. Ada seorang kakek yang terduduk di trotoar, masih belum gentar dalam menjajakan jualan celengannya yang tak seberapa, berharap ada seseorang yang mau membelinya agar ia dapat makan hari ini. Ada seorang pemuda dalam mobilnya yang terjebak di tengah kemacetan jam pulang kerja, kelelahan setengah mati karena deadline yang menumpuk seharian, berharap agar dapat segera sampai di apartemennya, supaya ia dapat segera tidur dengan nyenyak malam ini. Ada seorang pengamen kecil yang masih menyanyikan nada sumbang di tengah lampu merah, berharap dengan mata penuh harap, agar mereka yang terjebak dalam lampu merah dapat memberikan sedikit rezeki mereka walau hanya seperak dua perak. Dari semua “ada” yang ada, satu hal tentang mereka yang sama; sama-sama ingin tetap ada. Iya, ada. Eksis. Hidup. Bertahan. Mengambang. Apapun kita semua sebut itu namanya.

Iya, ibukota kita ini lucu ya? Tak ada “ibu” di dalamnya. Tak ada hangat yang membuat kita ingin berlama-lama ada di tengahnya. Kalau mau tetap hidup, ya harus mampu bertahan. Kalau tidak, ya kau mati dibunuh oleh pelakon yang lain.

Kemarin, aku pulang kala mentari sudah kembali bersembunyi di balik bahari. Di tengah kota Jakarta yang penuh akan hiruk pikuk manusianya, aku membaur, tersaur, tersungkur. Rasanya kecil, mengecil, kemudian nihil. Entah apa yang aku rasa saat itu, namun rasanya memuakkan. Rasanya sesak, tercekik hampir tumbang dan kalah dalam pertempuran. Kemudian, aku menepi, memberikan diriku jeda untuk sedetik dua detik. Aku mendongak memerhatikan tingginya gedung-gedung pencakar langit di sekitarku, walau rasanya kecil berada di tengah-tengahnya, kukuatkan diriku dengan kubisikkan lagi mantra itu:

“Sayang, tak apa. Jakarta memang ibukota. Walau tak ada “ibu” di dalamnya, kamu berhak istirahat untuk sesaat. Kalau hari ini belum berhasil bertahan, kita coba besok lagi ya?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment