Dua Sisi Mata Pisau dari Budaya Pemboikotan

Gambar: Darwin

Beberapa waktu lalu saya membaca berita mengenai salah seorang artis Korea yang tersandung skandal aborsi dan gaslighting. Secara tidak sadar saya segera berpikir, “Enyahlah manusia-manusia toksik semacam itu dari muka bumi ini.” Bukan sesuatu yang seharusnya saya lakukan memang–mengingat bagaimana saya pun tidak tau duduk permasalahan sebenarnya selain dari berita yang saya baca saja. Tapi saya rasa kebanyakan dari kita akan melakukan hal yang sama ketika berbicara mengenai pelaku kekerasan dalam hubungan.

Dari kasus tersebut, sedikit banyak saya belajar mengenai perilaku yang tanpa kita sadari sering kita lakukan. Seperti kasus artis Korea yang saya maksud, kita kerap kali secara berbondong-bondong membenci dan menghentikan dukungan kita terhadap seorang figur publik ketika ia melakukan suatu kesalahan fatal yang tidak sejalan dengan norma yang berlaku dalam masyarakat. Dalam konteks ini, dikatakan bahwa artis yang bersangkutan melakukan tindakan kekerasan terhadap mantan kekasihnya sehingga mengubah persepsi citra baik yang awalnya ia punya.

Dan ternyata, perilaku pemboikotan ini memiliki istilahnya tersendiri, yaitu cancel culture. Sebenarnya saya pun tak yakin siapa orang pertama yang mencetuskan sebutan ini. Namun, dari salah satu sumber yang saya baca, cancel culture ini mulai dipopulerkan sejak beberapa tahun silam melalui kampanye #MeToo. Kebanyakan figur publik yang menjadi targetnya ialah mereka yang melakukan suatu kesalahan tak termaafkan bagi publik. Budaya pemboikotan ini dilakukan sebagai bentuk hukuman sosial agar pelaku malu akan sikapnya. Tak jarang pula, mereka yang menjadi target akan berakhir kehilangan sinar dan panggungnya.

Cancel culture mungkin adalah cara yang cukup efektif untuk membuat seseorang jera. Saya sendiri pun setuju untuk memboikot pelaku pelecehan dan kekerasan, siapa pun itu orangnya. Namun di Korea, ternyata budaya pemboikotan ini tidak hanya terjadi kepada mereka yang memang melakukan kesalahan fatal. Tak jarang, mereka yang tidak bisa memenuhi standar sosial bisa terkena imbasnya. Walau di satu sisi budaya ini sebenarnya bertujuan baik, ternyata cancel culture pun memiliki sisi gelapnya: ia sering kali digunakan sebagai alat untuk merundung mereka yang juga tak bersalah.

Pada akhirnya, menurut saya budaya pemboikotan ini sebaiknya dilanggengkan untuk mereka yang memang pantas mendapatkannya. Namun seperti dua sisi koin, saya pikir kita pun tetap harus bisa melihat cerita yang ada dari perspektif lain secara objektif. Saya tidak akan membenarkan perilaku perundungan terhadap mereka yang sebetulnya tidak terjerat masalah. Terlebih, saya pun tidak berpikiran untuk secara langsung merundung mereka yang berkelakuan biadab. Pertama-tama, berdirilah bersama korban dan hentikan dukungan apa pun kepada figur publik yang bersangkutan.

Bacaan Lebih Lanjut:

Nariswari, Sekar Langit. 2021. “Mengenal Cancel Culture, Boikot Publik yang Kini Dialami Kim Seon Ho”. Diakses pada 26 Oktober 2021.

Nataliani, Maria Monasias. 2021. “Skandal Kim Seon Ho dan Sadisnya Cancel Culture di Korea Selatan”. Diakses pada 26 Oktober 2021.

Puspitasari, Devi. (Ed). 2021. “Cancel Culture, Standar Hukuman Sosial Baru di Dunia Maya”. Diakses pada 26 Oktober 2021.

South Sonder. 2019. “How K-pop’s Cancel Culture Exposed the Industry’s Perfect Illusion”. Diakses pada 26 Oktober 2021.

5 2 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top