folder Filed in Prosa, Sepasang
Dariku, Rumahmu
Sayang, kalau kau baca ini, kuharap kamu akan segera kembali. Pintuku belum kukunci malam ini, masih ada bagian tak terisi di ranjang sebelah kiri, yang kupikir akan kau isi malam ini.
Tata comment 0 Comments access_time 2 min read

Pada akhirnya, akan selalu kau temukan rumahmu padaku. Entah sejauh apapun kamu berjalan, sedalam apapun kamu menyelam, seriuh apapun keramaian, akau selalu kau temukan rumahmu padaku.

Memang bodoh kedengarannya, membukakan pintu lagi dan lagi untuk setiap lelah perjalananmu–menyeduhkan secangkir teh sehangat seduhan bunda, menghantarkanmu ke kasur untuk kau sambut tidur yang lebih nyenyak, merawat setiap luka yang kau punya setelah semua usaha. Iya, sesederhana itu aku siap menjadi rumahmu.

Namun kalau tidak lagi kau temukan rumahmu padaku, tolong ingat bahwa aku akan tetap ada. Ketika rumah yang kau singgahi nantinya tak lagi nyaman, ingatlah bahwa pintuku akan selalu terbuka untukmu. Lagi dan lagi. Tak kenal lelah memang sialan satu ini. Karena kupikir, temporermu akan selalu kau temukan di setiap sudut tempat baru yang kau jejaki itu. Namun permanenmu, akan selalu ada padaku.

Kamu bisa pergi sejauh apapun yang kamu mau, kamu bisa terbang setinggi apapun yang kamu mau, kamu bisa berlari menjauh sekuat yang kamu mau. Tapi lagi-lagi, ingatkan diri bahwa kembalimu adalah aku.

Aku ingat suatu hari seorang teman pernah bertanya padaku perihal kamu, “Apa sih yang masih kamu cari?”

Apa ya? Aku sendiri tak pernah tahu.

Yang aku tau, aku hanya ingin menunggu kamu. Iya, menunggumu di ambang pintu, seperti anjing yang tak pernah lelah menunggu pemiliknya kembali pulang di akhir hari. Tak berpikir kemungkinan terburuk bahwa kamu tak akan pernah kembali.

Sekali dua kali, ketakutan datang menghantui. Bagaimana kalau kau benar tak kembali? Lalu, akan jadi apa aku di sini?

Namun kamu kembali, lagi dan lagi. Dan untuk saat ini, hanya pasrah yang bisa aku miliki. Berharap bahwa semesta akan selalu mengamini.

Sayang, kalau kau baca ini, kuharap kamu akan segera kembali. Pintuku belum kukunci malam ini, masih ada bagian tak terisi di ranjang sebelah kiri, yang kupikir akan kau isi malam ini.

Sayang, kalau kau baca ini, kuharap kamu akan segera kembali. Karena yang kutahu, pada akhirnya akan selalu kau temukan rumahmu padaku. Iya, aku. Rumahmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment