Kertas Itu

Aku ikat secarik kertas di leher mungilnya, lalu tangan ini mengelusnya sambil berbisik pelan.
Jendela sudah terbuka lebar memberi sepoi angin yang mulai mengundang dirinya untuk pergi.
Kuberi kecupan terakhir di atas kepalanya sembari melontarkan senyum ringan.
Ia mulai memberanikan diri keluar ke dunia yang sudah lama tak kunikmati.

Kertas berisikan tulisan curahan hati kini terbang beriringan dengan kepakan sayapnya.
Tangis air mata membanjiri kedua pipi hingga mulai kabur pandanganku.
Bergegas kurogoh satu benda itu dari dalam lemari meja riasku.

Kutarik pelatuk dengan ujung jari telunjuk, dan badan mungilnya pun terjun bebas menghilang di semak rindang.
Hebatnya gemetar tanganku tak menghindari diri menarik pelatuk itu kembali.
Namun ternyata kini bidikanku tepat.
Tubuhku ikut tergeletak di lantai yang akhirnya dipenuhi dengan cairan merah.

Memang benar ya, pada akhirnya kata pisah pada kertas itu tak sanggup aku ungkap.
Bahkan kepadamu.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top