Setengah windu menjalin kasih kepada pria tidak acuh menjelaskan betapa banyak sayang yang sudah aku guyurkan kepadanya. Engkau jangan meragukan kekasihku, seseorang menghabiskan kendi yang berisi cinta untuk memandikan seseorang bukan tanpa alasan tentunya. Untuk itu, aku berani menghabiskan isi kendi itu karena aku tahu kasih dan sayangnya tak sebanding dengan isi kendi yang aku punya.

Dia memang tidak sefanatik diriku untuk menyiram kembang yang dicintainya. Melalui kedua jendela matanya saat menatapku, bercerita ataupun mendengar keluh kesahku, binar matanya sangat menjelaskan betapa banyaknya kendi yang ia punya untuk meredakan hausku.

Benar, mata memang jendela semua isi batin. Jika kau ingin melihat kadar ketulusan seseorang, lihat saja matanya dengan ketulusan dan logika yang kau punya. Begitulah mengapa aku bertahan pada pria tak acuh milikku, aku salah, bukan bertahan tapi aku membutuhkan pria seperti itu karena aku adalah wanita lemah jika dimiliki pria munafik.

Sebenarnya ketulusan itu sangat penting pada setiap sisi. Setelah mengenalnya aku tidak takut jika penghianatan dan cacian menghampiri, pada dasarnya ketulusan tidak akan pernah berwatak seperti itu.

Aku pernah menanyakan bermacam-macam pertanyaan agar jawabannya tertuju untuk memujiku walaupun terkesan terlihat tidak percaya diri untuk mendampinginya. Mulai dari wajah yang hanya dilapisi bedak bayi hingga polesan yang terlalu tebal, dari yang hanya tau warna mejikuhibiniu sampai menjadi tahu warna peach dan navy untuk balutan kainku, dan dari lipstik nude hingga lipstik ruby.

Lagipula, apa salahnya terlihat jelita di depan kekasih?

“Bang, cantik tidak lipstik Adek?” Berpuluh-puluh pertanyaan dan berpuluh-puluh juga jawaban tanpa sebuah kata. Seperti biasa ketika aku menanyakan pendapat perkara penampilan dan riasan, dia selalu mengangguk diiringi senyuman yang selalu membuat diriku semakin teduh jika berada di sampingnya.

Dengar, walaupun priaku tidak pernah menerbitkan kata cantik divbibirnya, dia juga tidak pernah menyematkan kata jelek pada manusia. Walaupun begitu, untuk apa diambil pusing, karena cantik itu memang kodrat wanita dan tampan adalah kodrat pria, sehingga aku tidak mengerti jika lantunan kata jelek harus melekat pada wajah seorang manusia.

“Abang, kenapa ingin menikah denganku?”

Payah, jika ingin jawaban terkesan memuji fisik jangan menanyakan yang jawabannya ke arah batin.

“Kamu jodohku, Dek, tidak baik meragukan takdir Tuhan. Baiklah, aku bertanya pada kau. Mengapa menerima lamaranku?” Begitulah dia tak akan mau kalah jika menurutnya itu adalah gurauan.

“Karena Abang tidak pernah memujiku cantik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment