folder Filed in Adalah, Cerpen
Tentang Berpulang
Stefany Chandra comment 0 Comments access_time 4 min read

Sudah beberapa tahun berlalu sejak bandar udara Polonia dipindahkan ke Kuala Namu. Dan aku tidak pernah ke Kuala Namu sebelumnya. Selama itulah aku belum menyentuh tanah ini lagi. Kali ini aku pergi. Entahlah, entah untung pergi atau sesungguhnya untuk pulang.

Mobil Kijang yang kutumpangi sudah terbatuk-batuk. Mesinnya sudah tua namun tetap dipaksa bekerja. Ada gundukan tak merata di lingkaran setirnya, membuatku membayangkan tongkat berjalan kakek-kakek renta, hanya saja bentuknya bulat sempurna. Bahkan ia tidak bisa berlari lebih kencang dari 90 km/jam. Itu pun sudah kukatakan hebat. Aku diam saja di bangku depan. Nampaknya perjalanan ini akan jadi lebih lama dari biasanya.

Dalam perjalanan aku tertidur. Mobil melewati deretan lanskap alam yang berubah-ubah, kebun kelapa sawit dan tanaman padi. Di mana-mana semenanjung: Tanjung Morawa, Tanjung Mulia. Dalam tidurku aku bermimpi, nenek duduk di teras belakang, membakar rokok dan menyesap segelas kopi pahit. Ia mengenakan daster tidur yang matching atas-bawah.

Kami menuju Tanjung Pura.

Aku tidak pernah tahu nama nenek. Seumur hidupku ia sudah tua, tetapi ia kuat. Aku ingat berdiri di atas kedua kakinya, lalu ia mengayunkannya bagai berjalan. Dua puluh dua tahun setelahnya, ia masih sama tuanya. Gambarannya masih seperti dulu, sungguh. Lalu kemudian, kematian menjemputnya bagai sahabat lama. Wanita kuat yang kupanggil pho-pho, kini kembali pada ayah-ibunya, pada cintanya yang pergi lebih dulu. Ia melepas rindu dengan hati yang ikhlas. Kami yang tidak.

Bau bakaran memenuhi penciumanku. Di mana-mana lilin merah menyala. Rumah duka itu sunyi dan suram. Hanya ada sanak keluarga, semuanya aku kenal. Pho-pho terbaring di dipan kayu, ia tidur dengan mata memejam rapat. Di depannya digelar karpet tamasya, dan banyak sekali dupa ditumpuk jadi satu.

Ayah-ibuku masuk. Serta merta mereka berlutut di bawah kaki pho-pho, menangis sampai terpingsan-pingsan. Betapa cepatnya rasa sedih menular, lewat partikel-partikel udara. Aku sampai sudah lelah sekali menangis. Hatiku benar-benar sakit menahan raungan yang kutelan bulat-bulat. Saat ini bukanlah keadaan terbaik bertemu dengan keluarga. Tidakkah seharusnya membahagiakan, pertemuan lengkap seperti ini?

Banyak hal kalang kabut. Aku tidak tahu pho-pho ada di mana. Apakah benar bahwa ia bahagia, apakah ia kedinginan, atau surga manakah yang hendak kuyakini. Aku membakar dupaku untuk kesekian kalinya. Bukan karena aku percaya atau apalah–meski pernah demikian. Tapi semata karena pho-phoku percaya. Setidaknya aku melakukan apa yang bisa kulakukan. Aku berharap mampu menyelamatkannya.

Kertas-kertas emas yang dilipat bagai kapal ditumpahkan ke atas jasadnya yang kini terbaring dalam peti. Peti itu tidak persegi panjang biasa, bagiku bentuknya seperti perahu layar besar. Aku berdoa ia melalui arus air yang tenang dan tidak menyulitkan kelak. Kertas-kertas itu bagai bantal tidurnya, selimut yang meredam dinginnya hawa orang mati. Ada daun-daun bambu muda diikat jadi satu, dibungkus kertas merah dan diletakkan diatas tangkupan tangannya. Ia mengenakan jubah biru sewarna langit. Aku bertanya dalam hati: ke sanakah kau akan pergi?

Kesedihan berwarna hitam. Namun aku merayakannya dalam putih yang bercahaya. Duka karib dengan air mata dan isak tangis. Ketika semua anak cucu pho-pho histeris dalam kabung penutupan peti, aku merasa sesak oleh klaustrofobik. Aku pergi ke pojok, membakar kertas emas banyak-banyak: banyak sekali sampai mataku pedih oleh debu bakaran dan asap dupa.

Aku berdoa itu mampu menyelamatkannya.

Pada malam hari, tempat ini sesak oleh orang-orang berbagai usia. Wajah-wajah yang datang untuk sajian makan malam dan acara ramah tamah saja. Beginikah bentuk penghiburan? Memang, sih, mereka bilang kematian di usia tua adalah perayaan.

Parade pengumuman kematian pho-pho berkeliling melewati jalan depan rumah duka. Sekerumunan orang berpakaian serba merah, membawa lilin dan menyanyikan sembah dalam bahasa yang tidak kupahami. Kemudian pikirku, setidaknya begitu lebih baik daripada orang duduk-duduk makan kacang.

“Mereka menuju kemana?”

“Benteng, dekat rumah burung walet.”

Nenekku tinggal disana. Menghabiskan masa tuanya sambil merokok dan menyesap segelas kopi pahit. Ia memelihara kucing warna emas, dan mondar mandir di depan rumah burung-burung walet itu di kala pagi.

Ia suka bunyinya yang menenangkan. Seperti menemukan sunyi yang tenang di tengah-tengah cericip mereka. Dasternya matching atas-bawah.

Ada bunyi piringan emas dipukul, lonceng yang berdenting, dan gendang merah kulit hewan ditabuh berkali-kali, tanda upacara dimulai. Seorang suhu mengenakan pakaian yang seolah muncul dari film vampir cina jaman dahulu. Gambar yin-yang besar dijahit di bagian punggungnya. Ada kejahatan di tengah kebaikan, ada kebaikan di tengah kejahatan. Semuanya seimbang. Kehidupan dan kematian berjalan beriringan, begitulah dunia berputar.

Foto terakhir pho-pho adalah lukisan tangan wajahnya di kala ia muda. Seumur hidupku, pho-pho sudah tua. Aku tidak mengenal gadis cantik dengan wajah proporsional itu. Aku mengenal pho-phoku yang keriput, yang suka makan siomay buatan ibuku. Dalam hati aku menyerukan pada langit dan tanah,

“Kau dimana sebenarnya?”  Seiring bergeraknya matahari turun, aku duduk berlutut, memegang kertas emas dan bersatu dalam sembahyang.

“Pho, aku berharap ini menyelamatkanmu.” Kemudian aku membakar dupaku lagi, untuk kesekian kalinya.


Previous Next

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment