folder Filed in Adalah, Prosa, Puisi
Sepiring Berdua
Bagi dia, bagi dua. Tambah lagi 1 telor dadar, pakai garam agak banyak. Bayar setengah harga, dia bilang tidak usah. Berdoa pada Tuhan yang sama.
Stefany Chandra comment 0 Comments access_time 1 min read

Bagi dia, bagi dua. Tambah lagi 1 telor dadar, pakai garam agak banyak. Bayar setengah harga, dia bilang tidak usah. Berdoa pada Tuhan yang sama. Caraku begini dia begitu. Tuhan, semoga makanan ini menyehatkan untuk jiwa raga kami, Amin. Piring di tengah meja, makan sambil lirik-lirik ke mata. Lalu ada tawa tentang lagu-lagu remaja, yang didiskusikan berlarut-larut lewat suapan nasi. Bagaimana pekerjaannya, apa yang dia rasa, siapa yang dia temu. Aku dan temanku, aku dan hariku, aku dan musikku yang dia tidak paham. Karakter dan figuran hidup yang sama-sama kita benci. Dia makan tomat, aku makan ketimun dua. Abisin, biar jodohnya gak jerawatan, sambil tunjuk nasi di setengah lingkar piringnya pakai sendokku. Dia lihat wajahku dengan alis bertaut, mata memicing. Jerawatan, dia bilang. Sepiring berdua. Tidak ada sebutir nasi yang sisa. Supaya jodohnya (aku dan kamu) jangan ada yang jerawatan.

Ada semoga dalam cegukan dan perut kekenyangan. Semoga yang kamu tau apa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment