Memeluk Diri Sendiri

Umumnya, kita menyadari bahwa keluarga dan sahabat yang kita miliki adalah orang-orang yang paling dekat dengan kita. Padahal, lebih dari, itu ketika wujud mereka sedang tidak bersama kita, seseorang yang paling dekat adalah diri kita sendiri. Banyak hal yang baru aku sadari dan renungkan selama aku menghabiskan banyak waktu di rumah saja ditambah dengan adanya pandemi COVID-19.

Setelah dinyatakan lulus pada tahun 2019 dan resmi menyandang gelar yang aku impikan sejak masa sekolah, Sarjana Ilmu Komunikasi, aku memutuskan untuk kembali ke rumah dan beristirahat sejenak sambil mulai melamar pekerjaan. Banyak sekali proses dan pengalaman yang aku dapat selama empat tahun menjalani masa perkuliahan, mulai dari lingkungan baru, kultur, dan proses menemukan teman-teman yang nyata. Kalau ditanya berapa banyak teman yang aku miliki, sejujurnya aku tidak memiliki banyak teman seperti orang lain. Aku memilih untuk memiliki sedikit teman namun nyata dan dapat menjadi sahabat di kala suka dan duka, memahami diri kita tanpa harus menghakimi satu sama lain.

Aku menjalani setiap proses yang ada sampai akhirnya aku mendapatkan definisi teman yang nyata itu dalam kehidupan aku saat ini. Aku menyadari bahwa banyak hal yang tidak aku akui sebelumnya, kesedihan, kegundahan, keraguan, dan hal lain yang membuat aku tidak nyaman. Aku menemukan teman yang begitu baik dan selalu memberikan suntikan positif untuk bisa belajar mengatakan apa yang dirasakan, apa yang dipikirkan, dan semua hal yang mengganggu pikiran. Walau saat ini jarak memisahkan, komunikasi tetap jalan. 

Awalnya aku berpikir, jarak dapat memutuskan semua hubungan sehingga aku selalu merasa tidak ada fungsinya menjalani hubungan yang terpisah oleh jarak. Padahal aku juga tau, kecanggihan teknologi saat ini sangat membantu banyak orang untuk tetap berhubungan dengan siapa pun, dimana pun dan kapan pun. 

Di balik dari semua itu, setelah aku sering mendapatkan kata-kata mutiara dan diberikan renungan-renungan tentang kehidupan ini, sahabat merupakan orang-orang yang mendukung kita secara penuh terkait dengan hal yang kita lakukan. Namun, aku berpikir kembali, jika sahabat aku selalu bisa mendukungku, bagaimana dengan diriku sendiri? Apakah aku sudah dapat dukungan penuh dari diri aku sendiri?

Hal inilah yang akhirnya mulai aku gali lagi dari diriku, mencari, dan mengasah segala potensi yang aku miliki. Sering sekali mimpi-mimpiku dianggap remeh oleh orang-orang terdekatku. Aku merasa tidak ada mimpi yang kecil. Semua dapat bermimpi menjadi apa pun selama dia berusaha mengejar mimpi tersebut. Aku mulai mengikuti kegiatan kursus online, web seminar, volunteering. Hal-hal ini sangat membantu aku memberikan pandangan baru dan membuat aku berpikir lebih terbuka lagi. Aku mulai menulis lagi, menulis segala hal yang aku alami, belajar mengakui segala keterpurukan yang ada. Aku sadar, bahwa hanya diriku sendiri yang dapat melangkahkan kaki untuk mimpi-mimpi yang aku punya. Aku juga yang harus mendorong diriku untuk maju. Aku mulai memeluk diriku sendiri karena dialah yang selalu berjalan bersamaku, selamanya.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top