Mengejar dan Dikejar

Setelah sekian lama aku berlari, aku berhenti. Napasku tersengal-sengal, mencari sosok yang selama ini aku kejar. Ke mana dia? Atau lebih tepatnya, siapa dia? Aku mengutuk diriku yang telah berlari ratusan atau bahkan ribuan kilometer tanpa tahu arah.

Kini aku tersesat, tak tahu harus ke mana. Kaki pun sudah lelah, tak sadar sudah jauh dari rumah. Haruskah aku lanjutkan perjalanan ini? Ataukah kembali? Namun untuk mengingat arah pulang saja aku tak mampu.

Aku duduk sejenak, memandang langit yang mulai gelap. Bertanya pada semesta apa yang harus kulakukan. Tidak lama aku pun tertidur, sekiranya cukup hari ini. Tanyaku terlalu banyak, biarkan hari ini menjadi jeda.

Matahari terbit dan menyapa, seolah menuntut janjiku kemarin. Apa yang akan aku lakukan sekarang, tak adakah petunjuk dari semesta? Hujan turun tiba-tiba, menjatuhkan diri ke bumi. Aku menangis dalam hujan, memanggil lirih bayangan yang tak pernah aku kenal. Menuntutnya untuk membawa aku pulang.

Seluruh tubuhku basah oleh air hujan. Setelah beberapa menit hujan pun berhenti, menyisakan dingin menusuk tulang. Aku berdiri sekuat tenaga, dan mulai mencari arah tujuan. Kiranya tak bisa aku berhenti di sini, aku harus lanjutkan perjalanan. Aku tidak boleh terjebak di sebuah jeda.

Hujan mengajari aku sebuah pelajaran, bahwa jatuh tak selamanya begitu sakit. Bahkan hujan memberi hadiah pada tanah, tanaman dan juga pada semesta. Kini perjalanan mungkin akan sedikit lebih sulit, karena tanah yang basah akan mudah membuat tergelincir. Namun tak apa, aku masih punya tenaga untuk terus tetap melanjutkan perjalanan. Walau tidak bisa berlari, tak apa jika harus berjalan.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top