Kecil dan Luka

Kecil, wajahmu meraut sedih. Siapa yang berlayar pergi, melatihmu sendiri, menertawakan sunyi. Sampai hatimu lupa, terbiasa perih. 

Begitu penggalan lagu Nadin Amizah yang berjudul “Seperti Tulang”. Aku mendengarkannya pada umur 18 tahun. Lagu yang sebenarnya ketika pertama kali aku dengarkan, aku tidak memaknai liriknya begitu dalam. Bahkan, tidak paham betul apa yang tersirat di dalam lirik lagu ini. Sampai tiba satu hari, aku mendengarkannya kembali dan membaca liriknya begitu teliti. Lantas aku paham. Kebun memori dan luka masa kecilku kembali terbuka dan meminta untuk dikunjungi.

Diriku yang kecil. Diriku yang belum mengerti apa yang diinginkan, belum mengerti cara berpura-pura, belum mengerti cara menjadi kuat, dan masih perlu banyak belajar. Diriku yang percaya bahwa kematian masih jauh dari jangkauan. Tidak ada yang mati hari ini,” ucapku dalam hati. Hari itu, aku jalani selayaknya mereka. Bermain di lapangan sekolah, makan siang bersama, duduk di bangku yang bersebelahan, dan menunggu untuk dijemput ketika pulang sekolah. Masa di mana dunia memiliki banyak sekali warna. Setiap harinya, aku disuguhkan dengan warna yang berbeda. Hari ini biru. Besok kelabu. Entah lusa, mungkin merah. Atau bisa dalam satu hari aku memiliki banyak warna. Aku menjadi isi bumi paling bahagia. Aku menjadi isi bumi yang dikelilingi oleh banyak isi bumi baik.

Namun, seiring berjalannya waktu, dunia ternyata memberikan banyak pelajaran lewat banyak cara. Diriku yang kecil diminta untuk bisa belajar tentang kehilangan dan kesepian. Tanpa aku sadari, mereka yang mengelilingiku perlahan pergi. Bukan, bukan hilang dari bumi. Melainkan, membantuku untuk belajar; tentang berpura-pura, tentang melawan sepi, dan tentang menjadi kuat. Ketika hari-hari biasa yang kulalui dengan ramai, perlahan dipaksa sepi, perlahan diminta untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Terlalu cepat untuk aku belajar caranya berdiri dan tidak bergantung dengan manusia lain. Terlalu cepat sampai yang kulakukan selama ini hanya mengunci lukanya di ruang bawah sadar yang sudah hilang kuncinya, atau dipaksa hilang. Diriku yang kecil hanya ingat bagaimana waktunya habis dengan kesendirian dan kesepian. Berpegang dan bersandar hanya pada diri sendiri yang rapuh, tetapi harus bertaruh.

Seiring beranjak menjadi dewasa. Diriku yang kecil sudah tidak lagi ada. Lukanya mati dan sudah kering. Diriku yang dewasa belajar untuk memenuhi banyak isi bumi dengan menjadi baik, menjadi perasa, dan menjadi ada. Diriku yang dewasa tidak lagi kesepian. Tidak lagi terluka, tetapi masih berpura-pura. Diriku yang dewasa hidup berkelana di banyak hati manusia, mencintai banyak kebaikan dan mudah memaafkan, sampai tiba, badai besar datang. Membuat matahari yang selama ini bersinar cerah harus pergi dan tidak memberikan segurat cahaya. Mereka yang datang ternyata tidak sengaja menyenggol luka yang kering, membuatnya basah dan berdarah kembali. Membuat rasa kehilangan dan kesepian menjadi musuh terbesar. Rasanya malam itu, aku ingin sekali menyerah dan hilang dari bumi; sehari, dua hari. sebulan, dua bulan. Tidak kunjung sembuh. Diriku yang kecil, hidup kembali. Membawa aku kembali ke memori tentang kesepian dan kehilangan. Tanganku gemetar hebat, tangisku tak tertahankan, dan aku tidak lagi mengenali diriku. Duniaku gelap.

Kalau aku tidak ada, apakah dunia orang lain akan runtuh? Selayaknya duniaku sekarang yang runtuh tanpa adanya mereka,” tanyaku perlahan. Di dalam gelapnya dunia, aku melihat setitik cahaya. Diulurkannya tangan dan membantuku untuk keluar dari gelap dan pekiknya luka. Diriku yang dewasa berdiri berhadapan dengan diriku yang kecil dan penuh luka. Dipeluknya diriku yang kecil. Diriku yang dewasa juga penuh dengan bekas luka, juga penuh dengan tangis dan tangan yang gemetar. Namun, dia belajar untuk bisa merelakan kehilangan. Dia belajar untuk tidak lagi berpura-pura, dia belajar untuk merasa selayaknya manusia. Luka yang terbuka dan dalam pada diriku yang kecil memang tidak akan sepenuhnya sembuh, tetapi dia tetap di sana. Menunggu untuk dirawat dan dirasa. Seperti penggalan lirik lagu Nadin Amizah, seperti tulang yang patah dan tumbuh, tidak sempurna.

1
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Velin Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Velin
Guest
Velin

Persis banget rasanya sama apa yang aku rasakan. Terimakasih sudah mewakili jiwaku

Top