Sebuah Pelajaran

Setiap orang tentunya memiliki definisi masing-masing tentang menjadi manusia dan menjadi manusia memang tidak terlepas dari yang namanya belajar.

Proses menjadi manusia terbentuk dari mereka yang kutemui dalam setiap bagian perjalanan hidup. Dari mereka, aku belajar banyak hal yang sebelumnya tidak pernah kutemui dalam hidupku.

Mereka tidak keberatan berbagi kisah hidupnya padaku. Memperhatikannya adalah suatu hal yang menyenangkan. Imajinasiku seolah menempatkanku menjadi peran utama dalam cerita mereka. Dengan cara seperti itu aku merasa seperti sudah memahami keseluruhan hidup mereka. Namun sepertinya, tidak juga.

Kadang kala, cerita mereka membuat perasaan iri muncul dalam benakku, “Mengapa aku tidak terlahir seperti dia yang terlihat begitu sempurna?” Sampai pada satu titik di mana aku berusaha menjadi seperti mereka yang dalam pandanganku terlihat sempurna, bahkan sampai memaksa orang-orang di sekitarku untuk mewujudkan sempurna yang kuimpikan. Nyatanya hal tersebut melelahkan dan perlahan kehilangan rasa untuk memahami diri sendiri.

Awalnya bagiku sulit sekali menerima kekurangan diri sendiri. Sebab standar kesempurnaan hidup menurutku berada pada kehidupan orang lain, selalu saja begitu. Memandang kehidupan diri sendiri adalah sebuah kenestapaan yang harus selalu dikeluhkan dan bukan untuk diperjuangkan. Berada pada situasi yang terus-menerus mengeluh tentang hidup, perlahan malah memperburuk keadaan. Hingga sesuatu hal menyadarkanku bahwa hidup bukan hanya sekadar mengeluh dan mengumpat, tetapi juga tentang perjuangan dan pengorbanan, serta penerimaan.

Perihal relasi antarsesama manusia, walau terlihat sama, tetapi pada dasarnya manusia tiada yang sama. Sadar bahwa manusia tiada yang sama, mengapa dalam beberapa kesempatan manusia dipaksa harus selalu sama?

Perbedaan adalah sesuatu hal yang tidak bisa dihindari. Aku pernah mendengar ceramah dari salah seorang pendakwah. Beliau menjelaskan, “Seandainya Tuhan berkehendak menciptakan keseragaman, maka akan Ia ciptakan. Namun nyatanya Tuhan menciptakan perbedaan.” Hal tersebut lantas membuatku berpikir, “Memangnya kalau semua diciptakan seragam, apakah hidup sudah pasti dijamin akan lebih baik?”

Dari sekian banyaknya perjalanan hidup yang kulalui, dapat ditarik sebuah pelajaran. Setiap manusia memiliki caranya tersendiri dalam memaknai hidup. Dan seiring bertambahnya usia, manusia akan terus belajar bagaimana ia memaknai keberadaannya dalam kehidupan.

Bagiku menjadi manusia adalah belajar memanusiakan manusia; belajar bagaimana kita bersikap dan memandang diri sendiri maupun orang lain seperti halnya seorang manusia. Hal ini bukan berarti sebelumnya tidak menganggap manusia adalah manusia. Tetapi sebuah bentuk menumbuhkan rasa kemanusiaan agar terwujudnya hidup yang lebih baik.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top