Setelah Tidur yang Panjang

Aku ingin melihat surga setiap kali aku bangun, tetapi tidak ada. Hanya atap rumah yang kosong, teriakan yang sama, dan kemarahan yang sama. Hidup hanya berputar di cerita yang sama, seakan-akan Tuhan ingin mengurungku di keluarga yang jauh dari kata sempurna. Seakan-akan Tuhan tidak memikirkan kebahagiaanku.

Setelah tidur yang panjang, aku ingin melihat surga setiap kali aku bangun. Tetapi apakah ada?

Dari kecil, kita semua diajarkan untuk menghormati orang tua ataupun anggota keluarga lain. Alasannya jelas; mereka yang merawat kita dari kecil. Kalau bukan karena mereka, sekarang kita tinggal di mana?

Tidak ada rumah yang sempurna, dan setiap rumah pun tidak sepantasnya dibandingkan satu dengan yang lainnya. Terkadang ada keluarga yang begitu hangat dan penyayang. Setiap konflik bisa selesai begitu saja, dan drama-drama kecil berlewatan dengan mudah. Tetapi banyak juga keluarga yang tidak memiliki kasih sayang, hanya berisi janji-janji kosong dan kebohongan. Anak, bagi mereka, hanyalah alat untuk memanjat kelas sosial. Seorang anak tidak memiliki arti selain ilmu mereka, pekerjaan mereka, pasangan hidup, maupun kondisi fisik mereka.

Masih banyak orang tua yang tidak mengerjakan tanggung jawab mereka yang semestinya. Orang tua yang semena-mena dan terus-menerus mengejek anaknya pun banyak. Tetapi banyak faktor yang bisa menjadikan mereka seperti itu. Misalnya, didikan dari masa kecil dan kepercayaan bahwa kekerasan adalah guru terbaik dalam hidup. Apalagi kalau misalnya mereka merasa bahwa hukuman itu pantas diberikan kepada seorang anak, terutama kalau anaknya yang bersalah.

             

                  Jiwa mereka juga terluka, apa bisa menyalahkan mereka?

 

Ada perbedaan antara toxic relationship dengan sekadar “tidak suka” dengan orang tua.

Seorang anak berhak untuk mendapatkan makanan dan minuman yang layak. Seorang anak berhak untuk merasa aman dan dicintai. Keluarga seharusnya menjadi tempat beristirahat dan berbahagia seorang anak. Tetapi, masih banyak budaya yang memaksa seorang anak untuk menyembah orang tuanya. Masih banyak pasangan ayah-ibu yang akan melakukan verbal and physical abuse kepada anaknya, ditutup dengan embel-embel, “Harus menghormati orang tua. Kalau kamu melawan, berarti kamu durhaka.”

Perkataan ini memang ada benarnya, tetapi sering kali disalahgunakan. Anak-anak menjadi korban emotional punching bag anggota keluarganya. Mereka tidak diperlakukan sebagai darah daging, tetapi sebagai pelampiasan amarah dan emosi-emosi negatif lainnya. Tentunya aksi ini akan menimbulkan efek tertekan pada seorang anak.

Apalagi, kalau dari awal sebuah rumah tidak utuh. Misalnya, orang tua bercerai sejak kecil, ataupun ada anggota keluarga yang tidak mau bertanggung jawab.

Seorang anak akan cenderung untuk bertumbuh dengan rasa takut; kecemasan akan ke mana dia akan pergi, dan untuk siapa dia akan pulang. Ada pula yang akan merasa, “Akan kutunjukkan kalau anak yang kautinggali ini, menjadi sukses suatu hari nanti.” Hati kebanyakan dari mereka, secara relatif akan berisi dengan dendam dan amarah. Tetapi sebenarnya, mereka hanya membutuhkan kasih sayang dari siapa pun yang rela menerima mereka.

Tetapi hidup bukanlah sesuatu yang harus ditangisi. Hidup bukanlah mukjizat semanis janji-janji di Kitab Suci. Tuhan tidak pernah menjanjikan keluarga yang utuh, tetapi Ia menjanjikan perjalanan yang penuh dengan luka yang akan menguatkanmu suatu hari. Memang ini terkesan seperti empty statement, dan sangatlah normal untuk marah kepada Tuhan–atau kepada siapa pun kita berdoa saat ini. “Kalau misalnya Yang di Surga menyayangi saya, lantas kenapa saya terbangun hanya untuk merasakan sakit yang sama seperti hari kemarin?”

Terkadang, tidak akan ada seorang pun yang mengatakan kepadamu bahwa kamu dicintai. Tetapi, ketahuilah bahwa itu sama sekali tidak menunjukkan nilai dirimu. Mau sejahat apa pun dunia ini memperlakukanmu, kamu tetap pantas diselamatkan. Pantas disayangi, pantas untuk berbahagia. Mau sedingin apa pun keluargamu, percayalah, kamu memiliki kehangatan yang tidak bisa dipadamkan oleh orang lain, dan jangan sampai orang lain memadamkannya.

Kita semua utuh, kita semua kuat, ada keluarga maupun tidak. Bagi yang memiliki keluarga yang “sempurna”, bersyukurlah. Bagi yang tidak pernah merasakan sebuah keluarga, berbahagialah. Masing-masing dari kita memiliki perjuangan sendiri, dan waktu terlalu sedikit untuk sekadar mengasihani diri sendiri.

Kalau sudah lelah, istirahatlah. Tetapi jangan pernah berhenti.

Keluarga yang tidak utuh bisa menjadi sesuatu yang indah kalau kita menerimanya.

Memang tidak sehat untuk berpura-pura ‘baik-baik saja’, ataupun memaksakan diri untuk mencintai apa yang sebenarnya kita tidak suka. Tetapi, kita tidak akan pernah sembuh kalau yang kita pikirkan hanyalah dendam dan amarah. Kita tidak perlu memaafkan mereka sekarang, tidak perlu juga marah kepada diri sendiri. Semua bisa dimulai dari penerimaan. Keluarga ini memang tidak utuh, keluarga ini memang tidak sempurna, tetapi kamu kuat menghadapinya. You are stronger than what you think. Buktinya, kamu masih di sini, dan kamu masih bisa berharap.

Bukankah itu sendiri sudah hal yang membanggakan?

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top