Merayakan Natal Adalah Merayakan Sesama

Natal nanti makan apa, ya? 

Kalau natal adalah harapan, lantas kenapa aku bersedih?

Desember hendak berakhir dengan cukup sejuk. Tidak terlalu sejuk, sih, untuk beberapa kota, tapi gedung-gedung megah diwarnai oleh hiasan pepohonan, hujan, dan mungkin lagu-lagu yang tak begitu asing di telinga. It’s beginning to look a lot like Christmas, dan memang benar. Tempat ibadah mulai bersorak-sorai, paduan suara memuji, tak lupa dengan diskon dan promosi besar-besaran di online shop. Ada juga janjian makan malam, jalan-jalan bersama kerabat tersayang, atau menonton film bioskop yang baru-baru ini viral di media sosial. Atau mungkin ada yang pusing menghadapi ujian akhir semester bagi anak kuliah. Bahagia, bahagia, dan rasa syukur. Pokoknya, kita semua harus berbahagia.

Natal merupakan acara sekaligus hari yang cukup sakral bagi mereka yang percaya kepada Yesus Kristus; menandakan kelahiran yang baru, kebahagiaan, dan keselamatan yang telah datang. Namun, setelah itu, jalan raya akan kembali dipenuhi kendaraan seperti biasa. Ibadah bakal berjalan kembali mengulang tahun kemarin. Karena tidak ada salju di Indonesia, jalan satu-satunya adalah melihat film bernuansa natal. 

Tapi, ada yang sedikit berbeda dari tahun-tahun kemarin.

Natal nanti makan apa, ya?

Apakah merayakan natal adalah merayakan kehilangan?

Hampir dua tahun natal terlewati melalui teknologi. Komunikasi dengan keluarga atau sahabat sudah cukup melalui telepon ataupun chatting-an menembus ruang dan jarak. Banyak sekali mimpi-mimpi yang tertunda, hati yang tersakiti, dan hubungan terputus. Kita telah meluncurkan doa-doa yang belum juga terjawab, serta rasa kehilangan yang tak terhitung banyaknya. Manusia terlalu sibuk mencari-cari Bintang Betlehem yang berpendar begitu cerah, menandakan sebuah arah dari jalan ini. Pencarian akan pelukan seorang Maria, perhatian seorang Yusuf, dan tak lupa, sebuah kabar baik yang menyenangkan.

Sejak pandemi, sudah berapa kali kita tersakiti? Sudah berapa kali kita harus menelan pelajaran-pelajaran yang cukup berat? Sudah berapa banyak air mata yang terjatuh?

Bisakah hati yang memudar merayakan natal?

Bisakah langkah terhenti sampai sini saja?

Menjelang malam, aku melihat lampu-lampu kota semakin megah. Menyerupai pelangi, berbagai cerita bersinar dengan warnanya masing-masing. Jutaan doa dan harapan mengantisipasi tahun baru. Ada yang lahir dan ada yang pergi. Ada yang manis dan ada yang pahit. Status media sosial dipenuhi oleh sepasang dress dan totebag serasi, sepatu baru serta hampers manis. Unggahan baru, unggahan senyum, liburan, dan ribuan konten lainnya untuk melupakan rasa sedih. Dunia berjalan semakin cepat untuk ronde-ronde berikutnya. Semakin cepat, semakin berat, dan semakin begitu-begitu saja.

Desember bahkan hendak selesai. Babak baru pun hendak dimulai.

Natal nanti … makan yang mewah-mewah aja, deh.

Tapi aku pernah mendengar suatu cerita, begini bunyinya:

Suatu malam, di Betlehem, ada pondok yang terselimuti jerami dan kasih sayang. Lokasinya cukup di pelosok–tidak ada lampu lilin, belum ada radio pemutar lagu-lagu natal, belum ada budaya sinterklas ataupun kue-kue manis. Tidak ada acara kumpul keluarga besar dengan baju bermerek, belum ada riasan warna-warni di pohon pinus. Tapi, suatu malam di Betlehem, hanya ada tangisan seorang bayi, mungil dan berharga. Permulaan sesuatu yang baru: Juru Selamat telah hadir, dan seluruh dunia kiranya bersukacita tak terikat ruang dan waktu. Tetapi ibarat musik, tangisan-Nya adalah pesan keselamatan dan kebahagiaan.

Bagaimana natal untuk mereka yang sedang hancur? Bagaimana natal untuk mereka yang tak dapat berdiri kembali? Bagaimana dengan segala kehilangan tahun ini?

“Selamat natal,” mungkin adalah doa. Semoga kamu berbahagia. Semoga kamu lekas sembuh. Semoga kamu dikuatkan oleh-Nya. Semoga, semoga, semoga. “… dan tahun baru,” lanjutmu dengan linangan air mata lagi. Semoga cukup kuat untuk menghadapi yang baru. Semoga masih ingin lanjut. Semoga cukup kuat. Semoga, semoga, semoga.

Merayakan natal adalah merayakan sesama; merayakan perjuangan sebuah pikiran yang terlalu sibuk menebak, merayakan iman yang belum juga runtuh; merayakan kekecewaan yang besar, kehilangan, dan menu makan malam yang belum juga ada. Merayakan Natal adalah menanyakan kabar mereka yang terisak, menemani mereka yang sendirian, dan berdoa untuk mereka yang memeluk semua masalahnya sendiri. 

Dan tak terasa, Desember terasa lebih dingin juga sepi. Mungkin Tuhan menjadikan ini kesempatan untuk memeluk kita semua dalam satu cahaya yang sama. Perlahan-lahan, untuk saling menguatkan, untuk saling memberikan kasih sayang.

Dengan begitu, mungkin Tuhan benar hadir melalui sebuah ucapan sederhana:

“Selamat natal, ya!” 

Lanjutkanlah hidupmu, lanjutkanlah langkahmu. Damai sejahtera akan hadir di dalam hatimu. Karena Tuhan tidak semata ada melalui canda tawa, tetapi di antara air mata yang tak terucap.

“Selamat natal juga!”

Dan hadir untuk membangunkanmu di hari yang baru.

5 3 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Laskar Pena
3 days ago

Memang sudah sepatutnya kita berpikir sedemikian. Sehingga kita akan mencapai esensi apa yang dinamakan menjadi manusia. Terima kasih pencerahannya kak.

Top