Hidup Tidak Pernah Cukup bagi Mereka yang Bermimpi

Hidup tidak pernah cukup bagi mereka yang bermimpi, tetapi pertanyaannya, apakah itu salah?

Dulu nilaiku di sekolah cenderung kurang, tidak sesuai standar. Padahal aku ingin sekali menjadi murid yang top. Karena pertama, kita tinggal di dunia, di tempat semua orang dinilai berdasarkan nilai rapor. Kedua, kepintaran ternyata menurut mereka hanya bisa dilihat melalui angka di atas kertas. Tapi dulu aku bersyukur sekali, “Ya udahlah dapat 70, toh yang penting lulus.” Kalaupun tidak mendapatkan nilai di atas KKM, ya sudah, selanjutnya tinggal mengerjakan ulangan dengan lebih baik lagi. Untuk apa dipandang yang terbaik kalau tertekan? Katanya orang-orang di atas itu cenderung terkena tekanan semua, ya?

Ternyata benar.         

“Kamu enggak memaksimalkan potensimu,” kata seorang guru, dan aku tahu kalau maksudnya sebenarnya baik. “Kalau bisa mendapatkan nilai 100, kenapa tidak?”

Maksudnya sangatlah baik, yakni untuk menghindari seorang pelajar dari sikap santai dan agar mereka lebih serius dalam belajar, lebih berani dalam menentukan tujuan. As they all say, the more the better.

Tetapi sejak itu, aku menjadi lebih jarang bersyukur. Jarang merasa cukup. Kalau bisa lebih baik, kenapa tidak? Kalau bisa mendapatkan lebih, kenapa tidak?

Secara tidak sadar, pola pikir seperti ini bisa menempatkan standar kebahagiaan sendiri dalam diri seseorang. Standar kepuasan sendiri. Kita dibiasakan oleh ekspektasi untuk selalu meminta lebih dan menjadi lebih. Untuk self-improvement, sih, memang penting. Contohnya, bukannya lebih baik untuk mendapatkan nilai 100 dalam pelajaran yang sebenarnya kita bisa? Bukannya akan terlihat cantik di surat kelulusan, apalagi mendapat pujian dari banyak orang? Oh iya, bisa digunakan untuk daftar beasiswa juga.

Tetapi apakah hati kita berada di sana?

Setelah mendapatkan beasiswa, apakah yang terjadi? Kita pasti bersyukur. Siapa yang tidak senang? Tetapi, kita harus hidup berdasarkan tuntutan beasiswa tersebut. Harus terlihat pintar, harus terlihat rajin, harus menjadi nomor satu. Apakah itu sudah cukup? Tentu belum. Cukup itu negatif. Kalau dari dulu kita merasa bahwa nilai 70 itu cukup, mana bisa mendapatkan penghargaan seperti ini?

Harus lebih dari biasa saja biar bahagia. Harus lebih dari sekadar teman biar bahagia. Harus lebih, seakan-akan kecukupan adalah sesuatu yang negatif, sesuatu yang harus dilupakan. Apalagi dalam buku-buku motivasi, kita diajarkan untuk tidak pernah merasa puas agar terus berkembang.

Lama-kelamaan, kita akan lupa rasa ‘cukup’ itu seperti apa.

Kembali lagi, apakah kita harus sukses untuk merasa puas? Sukses dalam taraf seperti apa? Di atas langit akan selalu ada langit, tetapi apakah kita harus menjadi yang paling atas untuk berbahagia?

Suatu hari, kamu akan melihat perjalananmu selama ini. Where you are, and where you started.

Bahkan sebelum kamu mendapatkan nilai 100, tentu kamu ‘cukup’ mendapatkan nilai 70. Kamu tetaplah pintar dan mumpuni meskipun kamu tidak merasa apa yang kamu kerjakan itu cukup. Tentu bukan berarti kamu harus bermalas-malasan dan hidup apa adanya tanpa mau berubah (kalau memang ada suatu cita-cita yang ingin dikejar) tetapi, ingatlah bahwa what matters is you, bukan sebesar apa kehilanganmu, dan sebanyak apa pun yang kaudapatkan kelak.

Mau sekecil apa pun kamu melangkah, mau seberapa besar kamu melompat, kamu tetaplah kamu. Bumi ini tetap tanah yang sama, tempat kamu berpijak dan hidup memang tidak pernah cukup bagi mereka yang berani bermimpi.

Tetapi untuk beristirahat dan tersenyum sejenak, apa salahnya?

4.3 4 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top