Dan ketika Aku Siap Jatuh Cinta Lagi

hidup ternyata tidak seindah buku-buku puisi para penyair.

Kadang memang perasaan itu tidak masuk akal bagi orang yang cenderung logis. Rayuan terdengar seperti janji manis yang takkan ditepati, sementara pengakuan rasa sayang terasa seperti kejutan yang bersifat sementara. Setidaknya, aku bukanlah tipe orang yang memandang cinta sebagai tujuan, ataupun pendamping sebagai keharusan. Aku tidak pernah mengerti kenapa sebuah kehangatan di hati bisa disangkutpautkan dengan kejutan buket malam-malam, ataupun maksud sebuah senyum setiap kali ada dering notifikasi nama dari LINE maupun Whatsapp.

Tetapi, apakah perasaan harus masuk akal?

Tanpa disadari, sebagian besar orang pernah jatuh cinta, entah kepada siapa maupun apa. Dari kecil memang aku yang paling tidak mengerti kenapa orang begitu mendamba-dambakan cinta. Tetapi, secara tidak disadari juga, bunga yang sempat kuhampiri di musim dingin mendadak bermekaran dan terkadang langit yang mendung terlihat seperti lukisan cat air, berwarna-warni. Mendadak matahari terlihat sedikit lebih cantik bila kita terbangun lebih awal. Bulan terlihat sedikit lebih manis bila kita sudah berbicara.

Tetapi, lagi, apakah itu suatu keharusan?

Aku pernah jatuh cinta pada angkasa. Setiap malam bersembunyi di balik lampu kota, tetapi selalu hadir tiap kali aku bermimpi. Kadang juga terbawa dalam doa kalau sebenarnya aku ingin memandang bintang-bintang di langit, kadang juga tidak. Tidakkah seseorang akan terperangah setiap kali melihat jutaan bola bekerlipan di atas, setiap kali melihat film dokumenter luar angkasa seperti film sci-fi yang tidak masuk akal? Tidakkah terlalu banyak cerita yang belum terceritakan, dan ada pemandangan yang terlalu indah untuk dilihat seorang manusia?

Lalu, kenapa aku belum berbahagia?

Kata orang, cinta bisa membuat senyum seseorang sedikit lebih lebar. Cinta bisa membuat hari seseorang sedikit lebih baik. Lantas, kenapa ada kebun rahasia di lubuk hatiku yang tidak pernah bisa mekar?

Apakah cinta harus memiliki aturan?

Kadang perasaan itu tidak masuk akal bagi orang yang cenderung logis. Banyak artikel penjelasan saintifik mengenai hal ini. Beragam juga alasan seseorang untuk menghabiskan hidup demi hal lain.

Tetapi, sampai kapan?

Sampai kapan kamu akan memperjuangkan sesuatu yang tidak membahagiakanmu?

Untuk mencintai orang lain adalah untuk menghormati luka mereka. Untuk mencintai orang lain adalah untuk memperbaikinya.

Tetapi, yang jauh lebih penting lagi adalah, untuk mencintai orang lain adalah untuk mencintai diri kita sendiri. Untuk kegagalan hubungan adalah untuk belajar menjadi seorang anak lagi, yang merasa tidak mengetahui apa-apa, tetapi berani melangkah untuk apa yang menurutnya benar.

Ketika aku sanggup jatuh cinta lagi, mungkin aku bisa perlahan memaafkan diriku atas pilihan kali ini. Tidak ada kehidupan yang terlalu sempurna dan sebuah lukisan takkan menjadi indah jika hanya ada terang tanpa sebuah gelap.

Dan ketika kamu bisa jatuh cinta lagi, mungkin lain kali kamu akan menulis sebuah lagu dengan caramu sendiri, untuk dirimu sendiri. Mungkin lain kali kamu takkan lagi menunggu hujan selesai, ataupun menunggu sebuah pelangi seusai badai berlalu. Mungkin lain kali kamu akan menemukan kebahagiaanmu sendiri, entah dengan siapa maupun apa.

Dan ketika aku bisa jatuh cinta lagi, mungkin hidup memang bisa seindah puisi-puisi para penyair. Sedikit manis, tetapi tidak terlalu rapuh untuk disyukuri.

setelah ini, kira-kira siapa yang akan membaca tulisanku?

4.9 8 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top