Pagi selalu menakutkan baginya. Seperti akan dihukum mati.

Pikirnya dengan menunda lelap ia dapat menipu

waktu. Gelisah. Hatinya begitu resah.

 

Setiap malam ia meringkuk sembari memaksa mata yang

sudah berat untuk membelalak lalu membiarkan isi kepala

terbang melayang-layang hingga berakhir jatuh tenggelam

dalam pikiran ketakutan.

 

“Aku benci pagi. Tidak bisakah malam mengambil peran lebih

panjang?” tawarnya, entah kepada siapa.

 

Diam-diam gelap menghipnotis, dengan sunyi merayu,

menggiringnya masuk hingga mata semakin sayu. Tiba-tiba

tersentak ia tersadar dengan tubuh yang gemetar.

 

“Teganya kau! Jika kututup mataku sekarang, satu detik akan

melontarkanku kehadapan siang. Sudah kubilang aku benci

terang!”

 

Malam acuh dan tetap berjalan.

 

Entah sampai kapan ia akan berperang dengan malam yang

bahkan tak lakukan kesalahan. Entah sampai kapan ia terus

abaikan bahwa kecewa yang tak pernah ia selesaikan dengan

berani, pasti menantinya di depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment

  1. Gak pernah tau caranya nyampein kata2 tentang malam. Pas baca ini, langsung bahagia. Semua kalimatnya mewakilkan, bingungnya menggambarkan malam yang selalu berharga disetiap detiknya. Siangnya, pedih mataku nahan2 ngantuk. 😆