Hampir Seluruh

Sudah lama sejak kali terakhir awan hitam itu merundung perjalananku. Beruntung ini hanya awan gelap, dengan sedikit gertakan petirnya yang sempat membuat diriku menggeragap.

Dua tahun lalu, pertama kalinya aku mengetahui pasti bahwa ada yang salah dengan diriku. Sedih senangku sering kali tak terkendali. Semua bisa berganti hanya dalam satu langkah kaki. Kutanyakan kepada mereka yang punya kuasa untuk berkata perihal apa yang sesungguhnya kuderita.

Jiwamu terluka, katanya.

Berawal dari trauma masa kecilku, aku tumbuh berdampingan dengan bayi awan yang terkadang berwujud putih bersih membawa sejuk, namun tak jarang berubah gelap pekat ditemani sambaran petir yang mampu membuat ragaku diserang kalut hingga ambruk.

Dua tahun berlalu, kupikir kini aku sudah sembuh hampir seluruh.
Ah, tapi pikiran itu tidak salah.
Hampir, belum sepenuhnya.
Wajar saja bila awan mendung itu bisa kembali berulah.

Barangkali si awan kelam rindu menggodaku seperti yang biasa ia lakukan saban minggu hingga tahun lalu. Beruntung aku sudah mengenal tabiat buruknya. Sekuat tenaga berusaha kuabaikan gertakan menakutkan itu. Kubiarkan alunan piano teduh yang berbunyi sayup mengalihkanku dari suara gemuruh yang kian menderu.

Aku bisa.
Aku akan tiba pada lega.
Semua ini pasti berlalu,
ketika sang waktu selesai menyapu pilu,
bersama denganku.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top