Bahagia Milikmu

“Bu, akhirnya aku menemukan apa yang sungguh-sungguh aku sukai dan ingin kulakukan hingga aku tak punya kemampuan lagi untuk melakukan apa-apa.”

Di ujung telepon, ibu menyimak ceritaku, menunggu dengan sabar setiap kata yang kulontarkan dengan hati-hati.

“Baguslah, Nak…”

“Tapi, aku takut ini bukan pilihan yang baik untuk semua orang, Bu.”

“Kenapa begitu?”

Aku menarik napas panjang. Pandanganku melekat pada langit-langit kamar. Barangkali bagi orang lain, ini bukanlah perkara yang sulit. Apabila kau punya mimpi dan dirimu sudah cukup dewasa untuk menjalani kehidupanmu sendiri, lakukan saja apa yang memang kauinginkan, kejar mimpimu, pilih sendiri jalanmu. Namun masalahnya, hidupku ini bukanlah milikku sendiri.

Ketidaksiapan ayah dan ibu membangun rumah tangga membuatku akhirnya diserahkan dan menggantungkan hidup pada mereka yang lebih mampu. Namun, saat aku semakin dewasa dan mulai mengutarakan keinginanku untuk mengejar impian, ada begitu banyak nada sumbang yang menentang pilihanku, dilema. Aku ingin meraih kebahagiaanku, namun aku pun tak mampu mengabaikan harapan mereka yang sudah berjasa dalam hidupku.

“Aku berhutang pada mereka. Ibu tahu, tanpa mereka, aku tidak akan bisa ada di sini hari ini. Aku tak ingin membuat mereka kecewa.”

“Bagaimana caranya?”

“Ya… mungkin dengan memberikan apa yang mereka harapkan dariku. Tapi, aku bingung Bu…”

“Kenapa?”

“Karena apa yang mereka inginkan itu tidak sejalan dengan apa yang sesungguhnya kuimpikan.”

Aku benar-benar berada di persimpangan jalan. Memilih mengejar mimpiku namun membuat kecewa mereka yang telah berjasa dalam hidupku, atau mengikuti harapan mereka namun itu berarti berjalan menjauh dari impianku.

“Nak, apakah kamu yakin bahwa semua orang pasti senang jika kamu melakukan apa yang mereka mau? Apakah kamu bisa memastikan bahwa kamu benar-benar mampu memenuhi ekspektasi mereka?”

Aku sedikit tercekat mendengar pertanyaan ibu. Sesuatu yang tak pernah benar-benar aku perhitungkan.

“Mungkin… Aku tak tahu, Bu…”

“Lalu, kalau nanti kamu sudah mengikuti apa yang mereka pilih untukmu, meninggalkan mimpimu, namun ternyata hasilnya tak sebaik yang dibayangkan, siapa yang akan menanggung akibat paling besar?”

“Yang pasti diriku sendiri…”

“Apakah kamu bisa pastikan mereka selalu bisa membantumu bila terjadi hal-hal yang tak diinginkan seperti itu? Apakah mereka bisa selamanya berada di sampingmu, Anakku?”

“Tentu tidak, Bu… Mereka juga punya kehidupan sendiri…” Aku benar-benar tak pernah memikirkan hal ini sebelumnya.

“Benar, dan manusia akan satu per satu pergi. Tidak selamanya kita tinggal di dunia. Teman akan pergi, pasangan akan pergi, saudara akan pergi, orang tua pun akan pergi. Pada akhirnya yang tersisa adalah diri kita sendiri, bukan?”

“Iya, Bu…”

“Lantas, bila kita menggantungkan kebahagiaan kita pada manusia lain, bukankah pada akhirnya kita akan kecewa?”

“Benar Bu. Tapi, bagaimana caranya aku membalas kebaikan mereka selama ini?”

“Membalas kebaikan, menunjukkan kepedulian, tak harus dengan meninggalkan impian. Setiap manusia terlahir dengan panggilan hidup yang berbeda-beda, sehingga untuk berbuat kebaikan pun ada begitu banyak cara. Ibu yang melahirkanmu, kan? Bukankah jasa Ibu juga besar? Tapi, Ibu pun tak ingin memaksamu mengambil pilihan yang sama dengan pilihan hidup yang Ibu ambil.”

Jawaban ibu membuka kembali pikiranku, juga menghangatkan hatiku.

“Ingatlah, Anakku. Mereka yang sungguh-sungguh peduli kepadamu pada akhirnya pasti akan turut berbahagia atas kebahagiaanmu. Jadi, dengarkan sungguh-sungguh kata hatimu, lakukanlah apa yang baik, pilihlah apa yang benar dan yang mampu kamu pertanggungjawabkan. Jangan takut, Nak. Ke mana pun kamu ingin melangkah, Ibu selalu mendoakan yang terbaik untukmu dan tak akan berhenti mengasihimu.”

5 11 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
2 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Puthryyyy
Puthryyyy
1 month ago

This is an awesome story🥺

Septiani Samba
Septiani Samba
1 month ago
Reply to  Puthryyyy

Thank you 😊🖤

Top