Tentang Rumah

Sudah tiga tahun aku memutuskan untuk hidup jauh dari rumah. Aku masih ingat saat itu, ketika Bapak mengizinkan anak perempuannya ini untuk pergi merantau ke tanah Jawa. Tak perlu banyak alasan dan permohonan, Bapak langsung mengizinkan. Dengan syarat, beliau akan menunggu sebuah pembuktian. Bukti bahwa anak perempuannya ini sudah benar-benar bisa hidup jauh dari rumah, dan menghadapi dunia yang lebih berat.

Kata-kata Bapak saat itu masih menjadi pengingat untukku. Kata Bapak, “Sesulit apa pun hidupmu di sana, jangan lupa masih ada rumah yang selalu menunggumu pulang.” Bapak benar, hidupku di tanah rantau memang tak semudah yang dibayangkan dulu. Sebagai perempuan yang selalu bergantung pada orang tua, aku mulai menyadari bahwa suatu saat nanti akan ada momen di mana aku harus berjuang untuk hidupku sendiri. Entah itu soal finansial, kemandirian, bahkan kesendirian.

Pak, jauh dari rumah ternyata memang tak mudah. Mengejar impian itu ternyata harus dilalui dengan luka dan tangisan. Letih karena ujian selalu datang silih berganti. Hidup jauh dari rumah memang penuh rintangan. Walau dikelilingi oleh orang-orang baik, tetap diri ini terkadang menangis karena tak bisa memahami diri sendiri. Kadang, ingin rasanya menyerah dan kembali pulang ke rumah, membayangkan hari-hari bersama Bapak dan Ibu, menikmati masakan Ibu setiap hari, dan menghirup udara pagi di rumah yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan.

Namun, aku harus bisa memberikan pembuktian kepada Bapak. Saat bapak melepasku pergi dulu, Bapak hanya minta pembuktian padaku. Bahwa keputusan yang aku ambil, harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Hingga nanti, Bapak bangga pada anak perempuannya yang tangguh dan bisa berguna bagi banyak orang.

Sesulit apa pun hari-hariku di tanah rantau, menerima panggilan telepon dari Bapak dan Ibu di rumah selalu menyembuhkan sedihku. Mereka adalah tempatku pulang, tentang rumah yang tak selalu sebuah bangunan dengan atap di atasnya.

Rumah adalah segala hal tempatmu pulang. Entah itu keluarga. Entah itu sahabat. Entah itu teman-teman. Bahkan rumah adalah ketika kamu berdoa kepada Tuhan, menumpahkan segala isi hatimu kepada Sang Pencipta. Percayalah, bahwa sesulit apa pun hidupmu, selalu ada rumah untukmu pulang. Selanjutnya, tinggal kamu yang menentukan makna rumahmu sendiri.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top